Setahun Perjalanan Cinta

fb8f3c07-162c-4a02-9c21-ada71a699239
Deddy & Amalia (Credit by @deddysussantho)

Masih teringat jelas bagaimana kesejukkan itu menjalar di perutku, saat tanganmu pertama kali melingkar dari belakang tempat duduk motor kita. Kemudian, kutempelkan telapak tangan kiriku di atas punggung tanganmu itu. Lalu kita sama-sama tertawa.

Saat-saat itulah yang paling kurindu. Berboncengan motor denganmu. Tak peduli kemana roda berputar, selama kamu di belakangku, menyentuh perutku dengan tanganmu dan kusentuh tanganmu dengan tanganku, aku merasa cukup.

Setelahnya, melalui kaca spion yang selalu sengaja kuposisikan agar kita bisa langsung bertatap, selalu ada rasa yang kita bagi. Seperti tawa yang kita tumpahkan pada angin pagi. Juga air mata yang kita titipkan pada tetes hujan di sore hari. Selama kamu bercerita, aku bahagia.

Karena dari sana aku jadi tahu, betapa sibuk dan seriusnya dirimu ketika mengajar anak-anak. Sampai-sampai turut mengantar pulang anak murid yang tidak dipedulikan (baca: dijemput) orangtuanya hingga malam. Lebih-lebih menangani dan dipercaya menanggulangi kasus degradasi moral yang menjangkiti anak-anak. Hingga-hingga menjadi tempat curhat orangtua mereka. Semua itu kamu lakukan dengan penuh dedikasi. Tak heran Bapak Kepala Sekolah merasa berat melepasmu tatkala aku datang untuk memberinya surat pengunduran dirimu.Read More »

Video Seminar Akhir Zaman

“Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian,” jelas Rasulullah SAW kepada para sahabat sesaat setelah Malaikat Jibril bertanya tentang Iman, Islam, Ihsan, dan Hari Kiamat. Saudaraku, begitu penting bagi kita mempelajari pokok agama yang diungkapkan dalam hadits ini, termasuk bagaimana memahami tentang akhir zaman dan Hari Kiamat. Ada banyak hadits-hadits yang […]

Saat Engkau Menemukan Batu pada Nasimu, Bersyukurlah!

batu
Ilustrasi Nasi (Sumber: zaudinsaad.blogspot.com)

Ketika engkau makan nasi dan tanpa sengaja menemukan sebuah batu kecil di piringmu atau tiba-tiba terdengar ‘krek’ tanda ada batu kecil tergigit saat mengunyah, kemudian engkau membuangnya, ketahuilah bahwa dalam hal tersebut terdapat kasih sayang Allah SWT.

Sulit dibayangkan bisa menemukan sebongkah batu kecil di tumpukkan nasi atau di antara kunyahan-kunyahan dalam mulut kita, bukan? Dengan begitu kita mampu mengeluarkannya dan terhindar dari kemungkinan-kemungkinan penyakit akibat masuknya batu dalam tubuh kita.

Intinya satu: Allah SWT ingin kita terhindar dari hal-hal buruk tersebut, sehingga menjadikan kita menemukan batu itu.

Jadi, jika engkau sedang makan dan menemukan adanya batu, bersyukurlah. Karena ada kasih sayang Allah SWT dalam kesempatan itu.

Sudahkah kita mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita?

___
Deddy Sussantho
Ciputat, 10 Januari 2016

Apa yang Aku Harus Lakukan pada Masalahku Ini?

Seorang kawan bertanya padaku dengan wajahnya yang gusar, “Apa yang harus aku lakukan pada masalahku ini?”

“Temukanlah sebuah jeda. Jeda yang membuatmu dapat melihat segala sesuatunya lebih luas dan utuh. Karena boleh jadi masalah terasa sangat besar manakala kita tidak memiliki jeda dalam memandang masalah.,” jawabku enteng.

“Apakah jeda itu?” tanyanya. Kali ini dengan wajah yang bingung.

“Keikhlasan.”

“Apakah semudah itu untuk ikhlas?”

“Tergantung.”

“Maksudnya?”

“Tergantung, apakah kita yakin pada Allah yang akan menguatkan dan memberi jalan keluar pada kita atau tidak.”

____

Deddy Sussantho
Pamulang, 7 Januari 2016

Resolusi: Tahun Ini Mau Mencapai Apa?

resolusi1
Ilustrasi (Sumber: blog.gopaktor.com)

Resolusi? Entahlah, selama ini saya mengewajantahkannya sebagai patokan ‘tahun ini mau mencapai apa’.

Seperti ketika lulus kuliah 2013, harapan saya saat itu adalah ingin cepat mendapat pekerjaan, alhamdulillah tercapai. Kemudian di 2014 berharap diangkat menjadi pegawai tetap, alhamdulillah berhasil. Hingga kemudian tahun 2015 saya targetkan untuk menikah, alhamdulillah terealisasi.

Sambil mengukur diri, saya banyak belajar dari orang-orang di sekitar saya, bahwa menetapkan tujuan itu sangatlah penting. Ia dapat menjadi acuan yang membuat gerak langkah kita lebih jelas dan penuh gairah.

Apapun resolusi kita di 2016, pastikan kita iringi dengan doa yang sebenar-benar doa. Karena doa adalah senjata yang membuat kita lebih kuat dan terjaga. Dengan begitu, berhasil atau tidaknya capaian, kita menyadari bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Apapun harapan kita di tahun depan, pastikan kita jalani dengan sebenar-benar usaha. Karena usaha adalah jalan mengeluarkan mimpi yang semula kata-kata menjadi nyata. Ia menjadi upaya menjemput takdir baik yang sudah Allah siapkan untuk kita.

Meskipun begitu, resolusi tidak mesti dilakukan di akhir tahun. Karena bagi seorang muslim, setiap waktu yang ia miliki adalah kesempatannya untuk bermuhasabah dan menentukan langkah baik perubahan dalam hidupnya.

Ah, sudahlah.

Selamat berlibur.
Selamat berakhir pekan.
Semoga Allah memberkahi.

____

Deddy Sussantho
Bandung, 31 Desember 2015

Tutupilah Kesalahan Saudaramu

Tutupilah Kesalahan Saudaramu!

@deddy_ds

(1)
“Sesungguhnya orang-orang yg ingin agar berita perbuatan yg amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yg beriman, bagi mereka adzab yg pedih di dunia dan di akhirat,” [QS. An-Nur (24): 19]

“Hai orang-orang yg beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain,” [QS. Al-Hujurat (49): 12]

Nabi Saw bertanya, “Tahukah kamu siapakah orang Muslim itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi Saw bersabda, “Orang Muslim adalah orang yang Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Para sahabat bertanya, “Siapakah orang Mukmin itu?” Nabi Saw menjawab, “Orang yang kaum mukminin merasa aman terhadap diri dan harta mereka dari gangguannya.” Para sahabt bertanya, “Siapakah orang yang berhijrah itu?” Nabi Saw menjawab, “Orang yang menghindari keburukan dan menjauhinya.” (HR. Thabrani)

“Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) seorang hamba yg lain kecuali Allah pasti akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim)

(2)
Menutupi aib atau keburukan orang lain adalah akhlak dan hak yg perlu ditunaikan seorang muslim kepada muslim lainnya. Dalam Ihya’ Ulumudin yg disarikan oleh Sa’id Hawa, Imam Al-Ghazali menjabarkan 24 poin hak-hak sesama muslim. Dari 24 poin tersebut, 5 poin secara eksplisit dan implisit membahas tentang menjaga kehormatan dan menutupi aib orang lain. Ini menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut.

(3)
Membicarakan keburukan atau aib orang lain adalah dilarang. Karena jika itu benar maka menjadi ghibah, sedang jika itu salah maka menjadi fitnah. Karena itu, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.” Namun jika berkenaan dengan amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak ada rukhshah untuk diam.

(4)
Jika ada kesalahan atau keburukan pada saudara kita, hendaklah kita memaafkan dan melupakannya. Kita tidak dibenarkan menyebarkannya jika tidak dengan alasan mendesak. Fudhail bin Iyyadh rahimahullah mengungkapkan, “Seorang mukmin akan senantiasa menutupi kesalahan saudaranya. Adapun orang fajir (jahat), ia akan selalu menjatuhkan saudaranya dan mencelanya.” Lebih jauh Ibnu Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Orang Mukmin mencarikan berbagai udzur, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan.”

Sikap terbaik dikala menemui keburukan pada saudara kita adalah bermuhasabah. Rasulullah Saw bersabda, “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Maka laiknya bercermin, ketika mendapati kecacatan pada saudara kita, yg perlu dibenahi terlebih dahulu adalah diri kita.

(5)
Para ulama salaf sangat membenci amar ma’ruf nahi nungkar yg dilakukan di khalayak ramai. Hal itu karena bisa menyebarkan aib orang yg dinasihatinya. Mereka lebih senang menyampaikannya secara sembunyi-sembunyi yg terbatas hanya antara yg menasihati dan yg dinasihati. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berujar, “Nasihati aku ketika sendiri, jangan nasehati di kala ramai, karena nasehat di kala ramai itu bagai hinaan yg melukai hati.”

(6)
Banyak kisah yg dapat kita pelajari:
1. Kisah wanita al-Ghamidiyah yg datang kepada Rasulullah Saw untuk mengakui perbuatannya berzina. Rasulullah Saw senantiasa menyuruhnya pulang.
2. Umar bin Khattab mendapati sepasang sejoli yg berbuat keji di malam hari, namun kemudian urung menjatuhi had (hukuman) atasnya.
3. Abdullah bin Mas’ud yg menasihati seorang paman yg mengadukan keponakannya yg telah mabuk.

*) Ada yg belum tahu kisahnya? Panjang soalnya. 😅

(7)
Imam Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan salah satu karakter seorang muslim, “Dan kita (seorang muslim) tidak mengatakan bahwa mereka (saudara semuslim) adalah kafir, musyrik, atau munafik sebelum jelas hal itu pada diri mereka dan kita memyerahkan isi hati mereka kepada Allah, karena mereka kita hanya diperintahkan untuk menghukum mereka terhadap apa yg nampak dari perbuatan mereka. Sebaliknya, kita dilarang untuk sekadar mengikuti prasangkap-prasangka dan apa-apa yg tidak berlandaskan ilmu.”

(8)
Orang-orang yg diperintahkan untuk menutupi suatu kemaksiatan:
1. Orang yg terlanjur melakukan kemaksiatan tanpa disengaja.
2. Orang yg menyaksikan suatu kemaksiatan.
3. Penguasa, raja, atau pihak-pihak yg berwajib dlm masalah ini.

Mereka perlu menutupi kesalahan orang-orang yg berbuat kemaksiatan dan menyuruhnya bertaubat, selama kemaksiatan mereka belum tersebar. Namun jika kemungkaran yg telah terbukti dgn jelas dan hukuman telah dijatuhkan, maka wajib dijalankan.

(9)
Hikmah disyariatkannya menutupi kesalahan:
1. Menutupi aib adalah sifat Allah. Allah cinta hamba yg bersifat dengan sifat-Nya.
2. Seorang pelaku maksiat yg blm terbongkar kemaksiatannya akan tersimpan rasa malu dalam hatinya. Pembeberan aib dapat menghilangkan rasa malu dan takut lantaran seolah perbuatan aib itu sudah menjadi biasa.
3. Akan diperoleh kemashlahatan yg banyak. Pelaku akan bertaubat dan berupaya menutupinya dengan amal shalih.
4. Nasihat yg baik akan mampu membuka hati manusia yg tertutup. Sebaliknya, mencari-cari kesalahan dapat melukai hati mereka, menjatuhkan kehormatannya, dan membeberkan aibnya.

(10)
Ada kondisi dimana aib boleh diungkapkan (bisa dilihat di Kitab Riyadhush Shalihin, Imam An-Nawawi:

1. Mengadukan kezhaliman seseorang kepadanya.
2. Minta tolong dalam rangka mengubah kemungkaran dan mengajak pelaku ke jalan yg benar.
3. Meminta fatwa kepada ulama dengan menceritakan contoh kezhaliman seseorang.
4. Memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap kejahatan seseorang.
5. Menindak seseorang yg pamer akan kejahatannya.
6. Memperkenalkan seseorang seperti bilang “Si Buta atau Si Tuli” tanpa niat mengejek. Namun menghindari sebutan ini lebih utama.

Referensi:
1. Tutupilah Kesalahan Saudaramu – Khalid Ibnu Abdurrahman Asy-Syayi
2. Tazkiyatun Nafs – Sa’id Hawa
3. Riyadhush Shalihin – Imam Nawawi
4. Shifatush Shafwah – Ibnul Jauzi

(Kebon Sirih, 10 Juli 2015)
deddysussantho.wordpress.com

View on Path

Jalani Saja

image
Sumber Foto: @deddy_ds (insyagram)

Sehebat atau seburuk apapun kita dulu, ingatlah, kita tidak hidup di masa lalu.

Maka tak perlu terlalu bangga atamenghukumi diri terlalu jauh. Semua suka itu hanyalah titipan, sedang duka itu tak lebih dari sekadar ujian. Semua lekas berlalu seiring berjalannya waktu.

Sesulit atau semudah apapun masalah kita sekarang, ingatlah, kita perlu bercermin ke belakang.

Maka saat beban terasa begitu menghimpit, kita tersadar pernah menjalani hal yang lebih sulit. Atau jika semua kini terasa lebih ringan, beban masa lalu membuat kita seperti padi yang menawan: merunduk, matang, dan berisi.

Seindah atau sekelam apapun bayangan kita akan masa depan nanti, ingatlah, kita hidup di hari ini.

Maka tetaplah berbuat yang terbaik. Jadilah pembelajar yang baik. Karena kebaikan-kebaikan yang kita upayakan saat ini akan menentukan kebaikan-kebaikan yang kita tuai di masa depan.

Insya Allah.
Man Jadda Wajada.

@deddy_ds

(Pondok Labu, 1 Juli 2015)