Kemenangan Dakwah

Foto Arief Saksono.
Sumber Foto: FB Arief Saksono

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Karena ini bukan persoalan perguliran kepemimpinan semata, tapi juga perjuangan menyeru umat kepada kebaikan dan melindungi mereka dari kemungkaran.

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Laiknya catatan sejarah, bahwa kemenangan itu bukanlah persoalan jumlah kekuatan, kekayaan, atau kekuasaan, tetapi lebih kepada keridhaan Allah yang turun melalui ketakwaan dan persatuan umat.

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Maka sudah sepatutnya kita bertasbih dan beristighfar, seperti suasana yang tergambar pada surah an-Nashr:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
Artinya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan…

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Maka sudah tentu kita menjaganya, mulai dari menjaga adab diri untuk tidak jumawa atau mengotori diri dari kata-kata dan ekspresi yang menghina, hingga menjaga kualitas ketaatan dan ghirah persatuan yang selama ini terbina.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimushalihat…

Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal shalih.

Gunung, 19/4/2017

Advertisements

Ini Hobi Baru Saya, Menanam Pohon Jeruk!

pohon jeruk
Sumber: Instagram @deddysussantho

Ini hobi baru saya. Menanam pohon jeruk. Sebelum berangkat dan setelah pulang kerja, selalu saya sempatkan melihat dan menyiram mereka.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika mengetahui mereka sudah sebesar ini dan sudah siap untuk dipisahkan satu sama lainnya pada pot yang lebih besar secara terpisah. Padahal tiga minggu lalu mereka masih berupa biji.

Mereka mengingatkan saya dengan aktivitas membina. Pada mulanya ada banyak bibit yang ditanam, tapi ternyata tidak semua berhasil tumbuh. Ada yang tumbuh pesat, ada pula yang baru merekah biji tanda baru mau tumbuh, tapi tidak sedikit yang akhirnya kering dan berakhir mati. Bahkan di antara yang tumbuh itupun beragam bentuknya. Yang satu punya batang panjang dan berdaun lebar, walau sedikit. Satu lagi pendek tapi banyak tunasnya. Lain lagi daunnya sedikit namun tanpa tunas. Mereka tumbuh dengan masing-masing potensi.

Setiap hari seperti selalu ada yang baru. Entah tambah daunnya, tunasnya, atau batangnya. Melihat perkembangannya, seperti ada harapan baru bagi hari-hari ke depan. Meski saya tahu selalu ada masa di mana saya harus tega membiarkan mereka diterpa panas dan hujan. Karena saya tahu itu baik untuk kemajuan mereka.

Kini, saya mencari waktu yang tepat untuk menyemai mereka ke medan yang lebih luas. Saya sadar asupan mereka akan semakin bertambah. Tidak lagi cukup dengan tetesan air dan sinar matahari, tetapi perlu didukung dengan pupuk yang tepat serta penjagaan dari hama-hama yang mungkin menyerang. Mungkin saja di kurun waktu itu akan ada lagi yang tersisih di antara mereka, seolah memilah dan menjawab, mana bibit unggulan dan mana yang tidak tahan ujian.

(Kedaung, 22 Maret 2017)

 

Agar Keberadaan Kami Memberi Arti

“Mbak Lia, itu anak saya kok jadi mau belajar? Bagaimana ceritanya? Padahal di rumah susaaah banget disuruh belajar…” tanya seorang Ibu tetangga kami.

“Iya, anak-anaknya yang minta belajar. Insya Allah Selasa, Rabu, dan Minggu kita belajar bareng,” jawab Isteri saya.

“Tapi maaf loh Mbak Lia, bagaimana bayarannya? Saya takut gak bisa bayar jasa Mbak Lia.”

“Tenang saja, Bu. Gak usah bayar. Gratis. Yang penting anaknya semangat mau belajar itu sudah cukup.”

Alhamdulillah… berawal dari ketidaksengajaan ketika anak-anak di sekitar kediaman kami selesai bermain bola bercanda dengan anak kami Syawal. Dengan santai Ibu kami bilang kepada mereka agar selain bermain juga perlu belajar yang rajin. Ibu juga menawarkan agar belajar dengan Isteri saya.

“Emang boleh, Mbak Lia?” tanya mereka.

“Ya boleh dong…” jawab Isteri saya.

15822910_1512812228732155_5887875551665172995_n
Anak-anak sekitar rumah. (Credit by: Amalia)

Memang sejak mulai mengandung, isteri saya tidak lagi bekerja sebagai guru. Keputusan ini kami ambil karena beberapa kondisi yang mengharuskan kami menempuh pilihan tersebut. Hingga kini, kecintaannya pada dunia pendidikan dan kegiatan mengajar tidaklah hilang, meski anak kami saat ini menginjak usia enam bulan.

Kami pun berpikir bagaimana agar potensi positifnya dapat tersalurkan tanpa meninggalkan banyak waktu bagi anak kami. Salah satunya dengan berwacana membangun rumah baca untuk anak-anak di sekitar kediaman kami. Dari sana kami berencana mengadakan berbagai kegiatan edukatif bagi mereka.

Ada berbagai motif tujuan kami melakukan itu:

  1. Sebagai wadah mengajar Isteri.
  2. Sebagai sarana dakwah keluarga untuk masyarakat. Bagaimanapun kondisi lingkungan di sekitar kami memang butuh perhatian lebih. Banyak permasalahan degradasi moral yang jamak tersiar melingkupi persoalan remaja di sekitar lingkungan rumah kami.
  3. Sebagai upaya pendidikan dan penjagaan bagi anak kami. Karena untuk menjadikan anak kita baik, tidak cukup dengan mendidik anak kita saja. Perlu juga mendidik anak-anak di sekitar lingkungannya sebagai pengkondisian kebaikan bagi teman-teman sepermainan anak kita nanti.
15965972_1518982181448493_1401071522395097601_n
Anak-anak belajar matematika. (Credit by: Amalia)

Namun, ‘ala kulli hal, meski maksud mendirikan rumah baca belum terlaksana karena beberapa hal, Allah memberi kesempatan dan peluang untuk kami tetap bisa memberikan kontribusi bagi lingkungan dengan kegiatan mengajar ini.

Melalui kabar lisan yang beredar, alhamdulillah semakin banyak anak-anak yang hadir untuk belajar. Dan sekarang, ini sudah masuk ke pertemuan ketujuh.

Ibarat mencari bungkus, tapi Allah justru memberi isi. Semoga ke depannya Allah terus berikan keberkahan bagi keluarga kami dan memudahkan segala urusan kami.

Allahumma aamiin.

[Kedaung, 15 Januari 2017]

 

Karena Cinta Harus Diupayakan*

ternyata-itu-kamu
“Ternyata itu Kamu”

Alhamdulillahi ‘ala kulli hal…

Saat itu saya beranikan diri menanyakan apa mahar yang kamu inginkan. Seperti yang saya duga, kamu meminta waktu untuk itu. Hingga pada akhirnya, pagi sebelum Subuh, kubaca pesan Whatsapp yang telah kamu posting tengah malam lalu. Cukup banyak yang kamu sampaikan. Namun yang saya ingat adalah alinea pertama, di mana tersaji jawaban dari pertanyaan saya itu: Bacaan surah Ar-Rahman, lima tulisan khusus, dan sesuai kemampuan.

Tiga mahar ini membuat saya tertegun sekaligus bergumam, “Akhwat berkelas, maharnya pun berkelas (kreatif)”.

Alhamdulillah, dengan penuh pengertian, kamu menerima cincin dan kalung emas putih yang sebelumnya kita beli bersama sebagai salah satu mahar yang kamu minta. Namun jikapun saat itu kamu belum menghitungnya sebagai mahar, saya pasti akan memutar otak untuk mengerahkan apapun yang saya miliki untuk kamu. Tapi ternyata kamu menerima. Alhamdulillah. Jazakillah khairan. Karena demikianlah Islam, agar sang wanita menerima mahar semudah-mudahnya, sementara sang lelaki memberi mahar yang sebaik-baiknya.

Selesai dengan satu mahar, beralih ke mahar lainnya. Soal menghapal surah Ar-Rahman, kamu tahu, dulu saat kuliah, saya pernah berpikir bahwa menghapal al-Qur’an itu untuk Allah dan tak elok bila kita melakukannya untuk akhwat atau mahar. Solusinya adalah menghapalnya sebelum permintaan mahar hafalan itu datang. Saya pernah punya impian hafal tiga juz sebelum menikah, tapi baru sampai satu setengah juz, hafalan bukannya bertambah tapi malah cenderung berkurang.

Permintaan membaca surah Ar-Rahmah ini datang ketika saya mulai jarang menghafal. Saya tersenyum. Mungkin ini cara Allah untuk membuat saya kembali menghafal. Saya ingat pesan Murabbi ketika SMA, yang dulu ketika menikah juga diminta membaca surah Ar-Rahmah oleh calon isterinya, bahwa menghafal surah Ar-Rahmah itu mudah, karena cuma mengulang-ngulang. Akhirnya saya upayakan, bismillah, dan benar, menghapalnya hanya butuh beberapa hari saja (jika serius).

Alhamdulillah dua mahar selesai. Terakhir, lima tulisan khusus. Jujur, inilah permintaan yang membuat saya hampir tak bisa tidur dan tak terasa enak makan di Bulan September ini. Setiap harinya bagai detik deadline yang menghantui. Pasalnya permintaan ini datang di saat saya sudah tak lagi produktif menulis. Bagaimana mungkin inspirasi bisa dipaksa? Sempat saya berpikir untuk memberikan tulisan-tulisan lama yang menurut saya terbaik untuk dikumpulkan menjadi jawaban permintaan ini, namun saya urungkan.

Saya fokus pada kata-kata ‘tulisan khusus untukku’. Saya akhirnya menjadikan kesempatan ini untuk memberi pesan, nasihat, dan harapan-harapan saya untukmu. Maka jadilah kelima tulisan ini.

Pada bagian pertama, tersaji tulisan bertajuk “Sekelumit Awal Cerita”. Dibanding tulisan yang lainnya, judul ini adalah tulisan terakhir yang saya tulis. Di sini saya ingin menceritakan tentang hal yang luput saya ceritakan saat ta’aruf (semoga kamu berkenan), sekaligus menjadi latar belakang motivasi saya ingin menikah. Tulisan ini mengalir begitu saja. Maka maaf apabila tak ada fokus yang jelas atau diksi yang indah di dalamnya.

Sementara “Ternyata itu Kamu” adalah tulisan paling pertama yang saya tulis. Di sini saya ceritakan bagaimana perasaan saya berproses denganmu. Seperti berkelindan, tulisan ini seperti tindak lanjut cerita di tulisan sebelumnya.

Di tulisan “Bersabarlah…” awalnya saya ingin memberinya judul Belajar dari Ummu Salamah, tapi tidak jadi. Ummu Salamah adalah ummul mukminin yang saya favoritkan setelah Khadijah. Awal mula ketertarikan pada sosok isteri rasul yang satu ini adalah pasca membaca kisah yang saya ceritakan ini. Entahlah, ketika dulu membacanya, seperti ada ketertarikan tersendiri saya pada karakter yang dimiliki Ummu Salamah.

Pada bagian keempat, ada tulisan dengan judul paling panjang dari lainnya, “Tak Ada Cinta Melainkan Karena-Nya, dan Tak Ada Cinta Melebihi Cinta Kepada-Nya”. Lagi-lagi saya mengangkat kisah seorang shahabiyah favorit saya di dalam tulisan ini. Ingin sekali saya perbaiki tulisan ini, karena merasa kurang maksimal menyajikannya, namun selain tak ada waktu, saya ingin menyajikannya utuh kepadamu sebagaimana awal lintasan fikiran saya saat menuliskannya.

Kemudian tulisan kelima “Zamiluni… Zamiluni…” pada awalnya adalah bagian dari tulisan “Sekelumit Awal Cerita”. Namun setelah dirasa tak nyambung, akhirnya saya jadikan tulisan ini judul tersendiri. Mulanya saya berkeinginan mengangkat kekaguman saya terhadap sosok Khadijah. Pun begitu, ala kulihal, jadilah tulisan ini. Bukan puisi, bukan prosa, ah entahlah, hanya sebuah kata-kata yang tersusun dengan harapan semoga kamu memahami apa yang saya maksud.

Pada bagian akhir, saya tambahkan dua tulisan lama, yang saya hampir tak percaya pernah menuliskannya di awal kuliah. Kini, tulisan itu menjadi nasihat untuk saya dan kamu. Anggaplah ini sebagai nasihat dari masa lalu.

Sengaja saya jadikan kelima tulisan khusus ini ke dalam format buku binder khusus yang dapat dikreasikan. Inspirasi ini muncul di tengah kebuntuan saya memikirkan bagaimana cara menyajikan mahar “Lima Surat Cinta” saat akad nikah nanti. Saya pun tambahkan kertas-kertas kosong di belakang dengan maksud agar dapat menjadi catatan tambahan seiring perjalanan hidup kita. Karena, sejatinya, kisah kita baru saja dimulai.

Inilah maharku untukmu…

Inilah maharku untukmu
Seperti ini kumampu
Sepenuh hati kuberikan
Sebagai wujud cintaku

Maharku untukmu tulus kuserahkan
Kepada dirimu satu yang kupilih
Maharku untukmu agung karunia
Yang Allah berikan padaku untukmu

Terimalah sebaris doa
Semoga engkau bahagia
Dan kunyanyikan lagu ini
Persembahan cinta suci

[Maharku Untukmu – Nasyid Alief]

Semoga kamu suka.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimushalihat…

 

Kebon Sirih, 29 September 2015
Deddy Sussantho
*) Judul Diambil dari Karya Izzatul Jannah dengan Judul yang Sama

 

Resolusi: Tahun Ini Mau Mencapai Apa?

resolusi1
Ilustrasi (Sumber: blog.gopaktor.com)

Resolusi? Entahlah, selama ini saya mengewajantahkannya sebagai patokan ‘tahun ini mau mencapai apa’.

Seperti ketika lulus kuliah 2013, harapan saya saat itu adalah ingin cepat mendapat pekerjaan, alhamdulillah tercapai. Kemudian di 2014 berharap diangkat menjadi pegawai tetap, alhamdulillah berhasil. Hingga kemudian tahun 2015 saya targetkan untuk menikah, alhamdulillah terealisasi.

Sambil mengukur diri, saya banyak belajar dari orang-orang di sekitar saya, bahwa menetapkan tujuan itu sangatlah penting. Ia dapat menjadi acuan yang membuat gerak langkah kita lebih jelas dan penuh gairah.

Apapun resolusi kita di 2016, pastikan kita iringi dengan doa yang sebenar-benar doa. Karena doa adalah senjata yang membuat kita lebih kuat dan terjaga. Dengan begitu, berhasil atau tidaknya capaian, kita menyadari bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Apapun harapan kita di tahun depan, pastikan kita jalani dengan sebenar-benar usaha. Karena usaha adalah jalan mengeluarkan mimpi yang semula kata-kata menjadi nyata. Ia menjadi upaya menjemput takdir baik yang sudah Allah siapkan untuk kita.

Meskipun begitu, resolusi tidak mesti dilakukan di akhir tahun. Karena bagi seorang muslim, setiap waktu yang ia miliki adalah kesempatannya untuk bermuhasabah dan menentukan langkah baik perubahan dalam hidupnya.

Ah, sudahlah.

Selamat berlibur.
Selamat berakhir pekan.
Semoga Allah memberkahi.

____

Deddy Sussantho
Bandung, 31 Desember 2015

Uang Receh di Dalam Dompet

Uang Receh (Sumber Foto: m.pakarinvestasi.com)
Uang Receh (Sumber Foto: m.pakarinvestasi.com)

Tak ada salahnya bila kita mengupayakan agar tetap memiliki uang receh di dalam dompet kita. Karena terkadang, setan membuat kita merasa berat menderma ketika hanya uang pecahan besar yang tersisa. Karena bisa jadi, kesempatan berbuat baik pergi lantaran uang receh di dompet kita sudah tidak ada lagi.

Beberapa tahun lalu, sesaat setelah Shalat Ashar, seseorang mendatangi saya sembari memperkenalkan diri dan mengatakan kalau saya mirip adiknya yang sedang dia cari. Karena merasa bingung, saya memutuskan untuk diam dan mendengarkan dia bercerita. Dia datang ke Jakarta untuk mencari adiknya yang hilang, namun saat ini perbekalannya sudah habis dan terpaksa dia bekerja sebagai buruh. Di akhir cerita, dia mengatakan butuh sekali uang untuk melanjutkan perjalanannya.

Ya, tak ada sedikitpun kata meminta dari mulutnya. Namun dengan menceritakan kesulitan seperti itu, siapapun tahu kalau dia sedang mengharapkan rasa iba. Akhirnya saya berikan sejumlah uang kepadanya. Tak banyak, hanya ‘receh’, tapi semoga dapat bermanfaat untuk meringankan kesulitannya.

Kejadian ini bukanlah yang kali pertama dan terakhir. Masih ada kisah lain namun dengan topik serupa: Seseorang datang dan meminta sedikit harta yang kita punya. Dia bukan pengemis ataupun pengamen. Dia hanya orang biasa yang secara kebetulan memilih kita sebagai tempat menumpahkan rasa dan menjatuhkan kepercayaannya bahwa kita mampu membantunya.

Modus penipuan baru? Mungkin saja. Tapi ‘tertipu’ sekian ribu rasanya lebih berharga daripada matinya rasa empati, bukan? Kehilangan kesempatan berbuat baik sepertinya lebih mahal daripada kehilangan beberapa ribu yang bisa dicari lagi, bukan?

Bisa jadi ia benar penipu, namun siapa pula yang bisa menjamin mereka yang hadir itu bukan malaikat yang sedang menyamar untuk menguji kita? Who knows.

Pernah saya merasa begitu menyesal saat gagal membeli bakpau. Awalnya selain rasa lapar, saya tergerak ingin membeli karena melihat si penjual duduk terpekur di samping dagangannya yang sepi pembeli. Padahal saat itu hari telah larut malam, sementara bakpaunya masih banyak yang belum terjual.

Salah saya memang tidak memeriksa dompet terlebih dahulu untuk mengetahui apakah masih ada receh atau tidak. Karena ternyata si penjual tidak memiliki uang kembalian atas pecahan besar yang saya berikan.

Sambil berlalu saya membayangkan apa yang si penjual itu rasakan dan pikirkan. Kecewa, tentu saja. Bagaimanapun pembeli yang ia tunggu-tunggu pergi hanya karena tidak adanya uang kembalian. Marah, mungkin saja, menganggap saya sombong karena memamerkan uang pecahan besar. Ah, seandainya saja saya punya uang receh, hal ini tidak akan terjadi.

Yah, mungkin indikator receh kita tidak sama. Bagiku puluhan ribu adalah receh, tapi mungkin bagimu ratusan ribu atau baginya jutaan rupiah itu masih receh.

Yang jelas, tak ada salahnya bila kita mengupayakan agar tetap memiliki uang receh di dalam dompet kita. Agar tatkala ada orang datang meminta kita mampu memberi. Agar ketika ada orang yang perlu dibantu kita bisa menolong.

Allahu a’lam bishowab.

____
Deddy Sussantho
Limo, 10 Agustus 2015 jam 00.15 WIB

www.deddysussantho.wordpress.com
@deddy_ds

Kunci Kebahagiaan

Ilustrasi (Sumber: Google)
Ilustrasi (Sumber: Google)

Beberapa waktu lalu saya dihadiahi DVD saat bertandang ke rumah Ust. Mashadi. Judulnya: Menguji Mana Kitab Suci Mana yang Benar dan Makanan yang Halal dan Thoyib: Dosa Bisa Dicek Bagaikan Pulsa.

DVD itu disusun oleh Ust. H. Nuzli Arismal dan Ust. Insan LS Mokoginta tahun 2015. Melihat kepingan CD-nya awalnya saya agak ragu, bagaimana bisa dua judul besar yang tidak saling berkelindan seperti itu disampaikan dengan burning-an yang tidak penuh (durasi hanya 30 menit)?

Ternyata isinya lebih kepada tema Law of Attraction (Hukum Timbal Balik) yang menjelaskan bagaimana seseorang itu sehat atau sakit, bahagia atau sengsara, disebabkan dari kebiasaan hidupnya sendiri.

Bila kita terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik, berlaku yang baik, makan makanan yang baik, berniat yang baik, dan segala hal yang baik-baik, maka sesungguhnya kita tengah mengumpukan energi positif yang menyebabkan diri kita kuat. Energi positif itu–menurut Ust. H. Nuzli Arismal–dalam bahasa agama disebut pahala. Sebalikya, bila kita sering berkata-kata yang buruk, berlaku yang buruk, makan makanan yang buruk, berniat yang buruk, dan segala hal yang buruk-buruk, maka sesungguhnya kita mengumpulkan energi negatif yang menyebabkan diri kita lemah. Energi negatif itulah yang disebut dosa.

Mereka menjelaskan bahwa segala pahala atau dosa itu memiliki pengaruh terhadap energi kita, dan itu bisa dibuktikan. Pembuktian inilah yang menjelaskan rasa penasaran saya di awal tadi.

Seorang relawan diminta berdiri dan mengangkat satu sisi tangannya sejajar dengan bahu, kemudian mengucapkan dan meniatkan sesuatu yang baik. Setelah itu Ust. H. Nuzli Arismal berusaha keras untuk menurunkan tangan tersebut. Hasilnya nihil. Tangan itu terlalu keras untuk diturunkan. Selanjutnya, relawan diminta mengucapkan dan meniatkan sesuatu yang buruk dan mengangkat satu sisi tangannya lagi. Hasilnya ajaib. Ust. H. Nuzli Arismal dapat menurunkan tangan relawan itu tanpa susah payah seolah tangan itu tanpa energi, meski sesungguhnya relawan itu menahan tangannya sekuat tenaga agar tidak turun.

Simulasi ini diulang-ulang pada sepanjang video, namun dengan relawan dan objek yang berbeda. Tidak hanya dengan niat atau ucapan saja, melainkan untuk membuktikan juga mana makanan yang sehat atau tidak, mana bacaan yang benar atau salah.

Di sisi lain, saya jadi ingat penelitian Prof. Masaru Emoto pada tahun 2005 yang mengupas “The Power of Water”. Penelitian itu mengungkap bahwa air memiliki respon terhadap kata-kata atau perilaku yang diberikan kepada dirinya. Jika diberi kata-kata positif, partikelnya akan terbentuk indah, simetris, dan mengagumkan. Sementara jika kata-kata negatif yang diberikan, maka partikelnya hancur tak terbentuk. Intinya, jika kita ingin sehat dan bahagia, mulailah dengan membiasakan diri berkata dan berbuat yang baik. Karena sejatinya 80% tubuh kita terdiri dari air.

Mengubah kebiasaan memang tidak semudah mengatakannya. Tapi ia seperti menggerakkan roda raksasa. Awalnya mungkin berat mendorongnya, tapi lama kelamaan seiring roda itu mulai bergerak, kita pun semakin ringan, bahkan pada akhirnya roda itu bergerak otomatis tanpa perlu kita dorong lagi.

Susah sih, tapi bisa (jangan dibalik).

Insya Allah.
Man jadda wajada.

____
Deddy Sussantho
[Limo, 8 Agustus 2015]
www.deddysussantho.wordpress.com
@deddy_ds