Kemenangan Dakwah

Foto Arief Saksono.
Sumber Foto: FB Arief Saksono

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Karena ini bukan persoalan perguliran kepemimpinan semata, tapi juga perjuangan menyeru umat kepada kebaikan dan melindungi mereka dari kemungkaran.

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Laiknya catatan sejarah, bahwa kemenangan itu bukanlah persoalan jumlah kekuatan, kekayaan, atau kekuasaan, tetapi lebih kepada keridhaan Allah yang turun melalui ketakwaan dan persatuan umat.

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Maka sudah sepatutnya kita bertasbih dan beristighfar, seperti suasana yang tergambar pada surah an-Nashr:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
Artinya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan…

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Maka sudah tentu kita menjaganya, mulai dari menjaga adab diri untuk tidak jumawa atau mengotori diri dari kata-kata dan ekspresi yang menghina, hingga menjaga kualitas ketaatan dan ghirah persatuan yang selama ini terbina.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimushalihat…

Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal shalih.

Gunung, 19/4/2017

Advertisements

Saat Engkau Menemukan Batu pada Nasimu, Bersyukurlah!

batu
Ilustrasi Nasi (Sumber: zaudinsaad.blogspot.com)

Ketika engkau makan nasi dan tanpa sengaja menemukan sebuah batu kecil di piringmu atau tiba-tiba terdengar ‘krek’ tanda ada batu kecil tergigit saat mengunyah, kemudian engkau membuangnya, ketahuilah bahwa dalam hal tersebut terdapat kasih sayang Allah SWT.

Sulit dibayangkan bisa menemukan sebongkah batu kecil di tumpukkan nasi atau di antara kunyahan-kunyahan dalam mulut kita, bukan? Dengan begitu kita mampu mengeluarkannya dan terhindar dari kemungkinan-kemungkinan penyakit akibat masuknya batu dalam tubuh kita.

Intinya satu: Allah SWT ingin kita terhindar dari hal-hal buruk tersebut, sehingga menjadikan kita menemukan batu itu.

Jadi, jika engkau sedang makan dan menemukan adanya batu, bersyukurlah. Karena ada kasih sayang Allah SWT dalam kesempatan itu.

Sudahkah kita mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita?

___
Deddy Sussantho
Ciputat, 10 Januari 2016

Apa yang Aku Harus Lakukan pada Masalahku Ini?

Seorang kawan bertanya padaku dengan wajahnya yang gusar, “Apa yang harus aku lakukan pada masalahku ini?”

“Temukanlah sebuah jeda. Jeda yang membuatmu dapat melihat segala sesuatunya lebih luas dan utuh. Karena boleh jadi masalah terasa sangat besar manakala kita tidak memiliki jeda dalam memandang masalah.,” jawabku enteng.

“Apakah jeda itu?” tanyanya. Kali ini dengan wajah yang bingung.

“Keikhlasan.”

“Apakah semudah itu untuk ikhlas?”

“Tergantung.”

“Maksudnya?”

“Tergantung, apakah kita yakin pada Allah yang akan menguatkan dan memberi jalan keluar pada kita atau tidak.”

____

Deddy Sussantho
Pamulang, 7 Januari 2016

Mencoba Mendengar

Ilustrasi Membangun kedekatan (Sumber: aminudinaszad.mywapblog.com)
Ilustrasi Membangun kedekatan (Sumber: aminudinaszad.mywapblog.com)

Saya pikir, menyediakan waktu untuk mendengarkan dan memberi kesempatan orang lain untuk bercerita itu baik.

Ya, mendengar saja. Cukup dengan mendengar. Karena terkadang yang mereka butuhkan bukanlah penilaian atau pengertian kita, tapi kesediaan kita untuk mendengar segala cerita mereka. Bukankah setiap orang senang bila didengar?

Beberapa tahun lalu, saya pernah jauh-jauh bertemu teman hanya untuk mendengarkan penjelasannya tentang produk dan bisnis MLM. Meski pada akhirnya saya menyampaikan permohonan maaf belum bisa bergabung, setidaknya saya sudah memberikannya kesempatan dirinya presentasi. Coba bayangkan kalau kita jadi dia, bagaimana rasa sakitnya ditolak saat belum berbuat apa-apa? ‪#‎huaa‬

Tidak ada salahnya kita mendengar. Karena dengan mencoba mendengar tidak akan menurunkan kehormatan kita. Lagipula kita tidak hidup dalam drama sinetron yang mana ada satu kejadian janggal, kemudian dia bilang, “Dengarkan dulu penjelasanku,” tapi kita tetap berlalu dan berkata, “Sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!” ‪#‎cuih‬ ‪#‎hoek‬

Lalu apa jadinya kalau penjelasan yang hendak disampaikan itu sebenarnya adalah kebenaran, tidakkah kita termasuk orang yang sombong? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim No. 91). ‪#‎nahloh‬

Maka dari itu, marilah kita belajar untuk mendengar dan mendengar untuk belajar. Karena dari sanalah kita memahami apa itu simpati. Karena dari itu pulalah kita mengerti arti kata empati.

Tahukah kita, bahwa seorang teman atau guru menjadi sosok favorit bukanlah karena kecerdasannya, kekayaannya, dan lainnya? Tapi lebih kepada kemampuannya untuk mau mendengarkan segala keluh kesah teman atau muridnya. Untuk itu kita perlu menjadi seorang pendengar yang baik.

Tahukah kita, bahwa seorang wanita memiliki protein Foxp2 lebih banyak dibandingkan laki-laki? Hal itulah yang menyebabkan mereka memiliki kebutuhan mengeluarkan 13.000 kata per hari lebih banyak dibadingkan laki-laki. Maka jika kita adalah suami, pahamilah isteri kita, mereka butuh didengar! Jadilah pendengar yang baik untuk mereka. ‪#‎mereka‬?

Tahukah kita, bahwa panca indera pertama yang aktif pada diri manusia adalah pendengarannya? Hal ini terbukti dari sejak enam bulan di dalam kandungan, bayi telah mampu mendengar dengan jelas suara-suara di sekitarnya. Maka mengapa kini kita terlalu pongah untuk mendengar? Masya Allah.

Tahukah kita, kenapa Allah Subhanahu wa Ta’aalaa ciptakan dua telinga dan satu mulut? Mungkin, hikmahnya adalah agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara (yang tak perlu).

Mengapa kita harus mendengar? Kaidahnya sederhana, hormati dan dengarkan oranglain jika kita ingin dihormati dan didengarkan orang lain. Itu.

Allahu a’lam bishowab.

____
Deddy Sussantho
Limo, 18 Agustus 2015, jam 22.57 WIB
www.deddysussantho.wordpress.com
@deddy_ds

Uang Receh di Dalam Dompet

Uang Receh (Sumber Foto: m.pakarinvestasi.com)
Uang Receh (Sumber Foto: m.pakarinvestasi.com)

Tak ada salahnya bila kita mengupayakan agar tetap memiliki uang receh di dalam dompet kita. Karena terkadang, setan membuat kita merasa berat menderma ketika hanya uang pecahan besar yang tersisa. Karena bisa jadi, kesempatan berbuat baik pergi lantaran uang receh di dompet kita sudah tidak ada lagi.

Beberapa tahun lalu, sesaat setelah Shalat Ashar, seseorang mendatangi saya sembari memperkenalkan diri dan mengatakan kalau saya mirip adiknya yang sedang dia cari. Karena merasa bingung, saya memutuskan untuk diam dan mendengarkan dia bercerita. Dia datang ke Jakarta untuk mencari adiknya yang hilang, namun saat ini perbekalannya sudah habis dan terpaksa dia bekerja sebagai buruh. Di akhir cerita, dia mengatakan butuh sekali uang untuk melanjutkan perjalanannya.

Ya, tak ada sedikitpun kata meminta dari mulutnya. Namun dengan menceritakan kesulitan seperti itu, siapapun tahu kalau dia sedang mengharapkan rasa iba. Akhirnya saya berikan sejumlah uang kepadanya. Tak banyak, hanya ‘receh’, tapi semoga dapat bermanfaat untuk meringankan kesulitannya.

Kejadian ini bukanlah yang kali pertama dan terakhir. Masih ada kisah lain namun dengan topik serupa: Seseorang datang dan meminta sedikit harta yang kita punya. Dia bukan pengemis ataupun pengamen. Dia hanya orang biasa yang secara kebetulan memilih kita sebagai tempat menumpahkan rasa dan menjatuhkan kepercayaannya bahwa kita mampu membantunya.

Modus penipuan baru? Mungkin saja. Tapi ‘tertipu’ sekian ribu rasanya lebih berharga daripada matinya rasa empati, bukan? Kehilangan kesempatan berbuat baik sepertinya lebih mahal daripada kehilangan beberapa ribu yang bisa dicari lagi, bukan?

Bisa jadi ia benar penipu, namun siapa pula yang bisa menjamin mereka yang hadir itu bukan malaikat yang sedang menyamar untuk menguji kita? Who knows.

Pernah saya merasa begitu menyesal saat gagal membeli bakpau. Awalnya selain rasa lapar, saya tergerak ingin membeli karena melihat si penjual duduk terpekur di samping dagangannya yang sepi pembeli. Padahal saat itu hari telah larut malam, sementara bakpaunya masih banyak yang belum terjual.

Salah saya memang tidak memeriksa dompet terlebih dahulu untuk mengetahui apakah masih ada receh atau tidak. Karena ternyata si penjual tidak memiliki uang kembalian atas pecahan besar yang saya berikan.

Sambil berlalu saya membayangkan apa yang si penjual itu rasakan dan pikirkan. Kecewa, tentu saja. Bagaimanapun pembeli yang ia tunggu-tunggu pergi hanya karena tidak adanya uang kembalian. Marah, mungkin saja, menganggap saya sombong karena memamerkan uang pecahan besar. Ah, seandainya saja saya punya uang receh, hal ini tidak akan terjadi.

Yah, mungkin indikator receh kita tidak sama. Bagiku puluhan ribu adalah receh, tapi mungkin bagimu ratusan ribu atau baginya jutaan rupiah itu masih receh.

Yang jelas, tak ada salahnya bila kita mengupayakan agar tetap memiliki uang receh di dalam dompet kita. Agar tatkala ada orang datang meminta kita mampu memberi. Agar ketika ada orang yang perlu dibantu kita bisa menolong.

Allahu a’lam bishowab.

____
Deddy Sussantho
Limo, 10 Agustus 2015 jam 00.15 WIB

www.deddysussantho.wordpress.com
@deddy_ds

Kunci Kebahagiaan

Ilustrasi (Sumber: Google)
Ilustrasi (Sumber: Google)

Beberapa waktu lalu saya dihadiahi DVD saat bertandang ke rumah Ust. Mashadi. Judulnya: Menguji Mana Kitab Suci Mana yang Benar dan Makanan yang Halal dan Thoyib: Dosa Bisa Dicek Bagaikan Pulsa.

DVD itu disusun oleh Ust. H. Nuzli Arismal dan Ust. Insan LS Mokoginta tahun 2015. Melihat kepingan CD-nya awalnya saya agak ragu, bagaimana bisa dua judul besar yang tidak saling berkelindan seperti itu disampaikan dengan burning-an yang tidak penuh (durasi hanya 30 menit)?

Ternyata isinya lebih kepada tema Law of Attraction (Hukum Timbal Balik) yang menjelaskan bagaimana seseorang itu sehat atau sakit, bahagia atau sengsara, disebabkan dari kebiasaan hidupnya sendiri.

Bila kita terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik, berlaku yang baik, makan makanan yang baik, berniat yang baik, dan segala hal yang baik-baik, maka sesungguhnya kita tengah mengumpukan energi positif yang menyebabkan diri kita kuat. Energi positif itu–menurut Ust. H. Nuzli Arismal–dalam bahasa agama disebut pahala. Sebalikya, bila kita sering berkata-kata yang buruk, berlaku yang buruk, makan makanan yang buruk, berniat yang buruk, dan segala hal yang buruk-buruk, maka sesungguhnya kita mengumpulkan energi negatif yang menyebabkan diri kita lemah. Energi negatif itulah yang disebut dosa.

Mereka menjelaskan bahwa segala pahala atau dosa itu memiliki pengaruh terhadap energi kita, dan itu bisa dibuktikan. Pembuktian inilah yang menjelaskan rasa penasaran saya di awal tadi.

Seorang relawan diminta berdiri dan mengangkat satu sisi tangannya sejajar dengan bahu, kemudian mengucapkan dan meniatkan sesuatu yang baik. Setelah itu Ust. H. Nuzli Arismal berusaha keras untuk menurunkan tangan tersebut. Hasilnya nihil. Tangan itu terlalu keras untuk diturunkan. Selanjutnya, relawan diminta mengucapkan dan meniatkan sesuatu yang buruk dan mengangkat satu sisi tangannya lagi. Hasilnya ajaib. Ust. H. Nuzli Arismal dapat menurunkan tangan relawan itu tanpa susah payah seolah tangan itu tanpa energi, meski sesungguhnya relawan itu menahan tangannya sekuat tenaga agar tidak turun.

Simulasi ini diulang-ulang pada sepanjang video, namun dengan relawan dan objek yang berbeda. Tidak hanya dengan niat atau ucapan saja, melainkan untuk membuktikan juga mana makanan yang sehat atau tidak, mana bacaan yang benar atau salah.

Di sisi lain, saya jadi ingat penelitian Prof. Masaru Emoto pada tahun 2005 yang mengupas “The Power of Water”. Penelitian itu mengungkap bahwa air memiliki respon terhadap kata-kata atau perilaku yang diberikan kepada dirinya. Jika diberi kata-kata positif, partikelnya akan terbentuk indah, simetris, dan mengagumkan. Sementara jika kata-kata negatif yang diberikan, maka partikelnya hancur tak terbentuk. Intinya, jika kita ingin sehat dan bahagia, mulailah dengan membiasakan diri berkata dan berbuat yang baik. Karena sejatinya 80% tubuh kita terdiri dari air.

Mengubah kebiasaan memang tidak semudah mengatakannya. Tapi ia seperti menggerakkan roda raksasa. Awalnya mungkin berat mendorongnya, tapi lama kelamaan seiring roda itu mulai bergerak, kita pun semakin ringan, bahkan pada akhirnya roda itu bergerak otomatis tanpa perlu kita dorong lagi.

Susah sih, tapi bisa (jangan dibalik).

Insya Allah.
Man jadda wajada.

____
Deddy Sussantho
[Limo, 8 Agustus 2015]
www.deddysussantho.wordpress.com
@deddy_ds

Membina itu Membangun

Membangun (Sumber Foto: Instagram @deddy_ds)
Membangun (Sumber Foto: Instagram @deddy_ds)

Membina adalah membangun. Karena begitulah asal katanya dalam bahasa Arab, ‘bina’ artinya membangun.

Sebagai pembina, maka sudah sepatutnya kita memperhatikan unsur-unsur dan prosesnya dalam membangun. Perlu takaran pas dan sentuhan khusus pada setiap bagiannya. Untuk itu kita harus bersabar. Inilah perjuangan.

Jika berat, itulah jalannya.
Jika lama, itulah sifatnya.
Jika terancam hancur, itulah tantangannya.

Karena akhir yang indah akan kita tuai makanala kelak mereka dapat berdiri tegak mandiri tanpa perlu kita sangga lagi.

Meski terkadang faktor penghancur datang karena hal kecil yang mudah dan terkesan sepele. Pun begitu, nikmati saja setiap prosesnya. Jika hancur, bangun lagi. Hancur, bangun lagi.

Pada akhirnya kita hanya perlu bersabar dan mengingat: Kita dituntut untuk berusaha, bukan berhasil. Jika berhasil karena usaha itu mulia. Namun jika tidak, itu tidak akan mengurangi kemuliaan kita atas usaha kita dalam membina.

Man jadda wajada.

____
Deddy Sussantho
Suatu sore di Sudirman, dalam perjalanan pulang, 30 Juli 2015 jam 17.40 WIB

www.deddysussantho.wordpress.com
@deddy_ds