Menjaga Kejernihan Hati dan Membentuk Situasi yang Kondusif adalah Kiat Sukses dalam Belajar

Setelah memiliki persepsi yang benar terhadap belajar (baca: Jika Kamu Seorang Pembelajar, Kamu Harus Perhatikan Tiga Hal Ini), hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah membangun kekuatan dan pertahanan diri untuk menjaga semangat dalam belajar.

Tidak dapat ditepis, indikasi kesuksesan belajar tidak hanya berasal dari dalam diri (internal), tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar (eksternal). Dua faktor inilah yang menjadi kunci dasar mendapatkan ilmu. Lebih lanjut kedua faktor ini akan dijelaskan di bawah ini.

Ilustrasi Semangat (Sumber Foto: peterdraw.wordpress.com)
Ilustrasi Semangat (Sumber Foto: peterdraw.wordpress.com)

Menjaga Kejernihan Hati

Belajar adalah proses internalisasi ilmu ke dalam diri. Ilmu yang berkah tidaklah sekadar sampai ke otak, tetapi juga ke hati. Maka itu keberadaan serta kondisi hati begitu penting belajar belajar.

Bila digambarkan, hati itu ibarat rumah berjendela kaca, sementara ilmu adalah cahaya matahari. Cahaya tidak akan masuk ke dalam rumah manakala kondisi kaca jendela tertutup, kotor, atau terhalang debu. Begitu pula dengan ilmu, yang sulit didapat kalau hati terhalang jerat.

Agar ilmu dapat masuk dengan mudah, hati perlu senantiasa dijaga kondisinya, sehingga tetap bersih dan optimal dalam menangkap cahaya-cahaya ilmu. Berkaitan dengan ini, ada beberapa hal harus diperhatikan saat belajar, yaitu:Read More »

Advertisements

Jika Kamu Seorang Pembelajar, Kamu Harus Perhatikan Tiga Hal Ini

Capaian sebuah hasil itu selalu berbanding lurus dari tindakan yang dilakukan. Sementara sebuah tindakan itu dimulai dari sebuah pemikiran. Maka itu, persepsi yang salah atau keliru dapat membuat rancu seseorang dalam bertindak, termasuk memahami belajar yang nantinya akan dapat menghambat dirinya dalam proses belajar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2008, kata “belajar” memiliki arti berusaha mengetahui sesuatu. Sementara kata “mempelajari” berarti belajar sesuatu secara mendalam.[1] Namun pengertian tersebut tidaklah cukup untuk memahami kegiatan belajar secara utuh. Berikut ini ada beberapa hal yang menjadi titik tekan belajar, yaitu bagaimana tujuan belajar, ruang lingkup belajar, hingga output dari belajar.

Membangun Jalan Ketakwaan

Ilustrasi (Sumber Foto: www.tempo.co)
Ilustrasi (Sumber Foto: http://www.tempo.co)

Bukan hal yang baru lagi kalau Islam menaruh perhatian begitu besar terhadap ilmu. Ini dapat dilihat dari banyaknya nash, baik dari al-Qur’an maupun hadits, yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu. Simak saja wahyu pertama yang didapat Rasulullah SAW ketika di gua Hiro, yang termaktub dalam surat al-‘Alaq ayat pertama, yang berbunyi, “Iqro’!” Bacalah! Sebuah isyarat bahwa Rasulullah SAW diminta oleh Allah SWT untuk belajar, dengan membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT, baik secara tekstual maupun kontekstual. Berkaitan dengan ini Rasulullah SAW pernah bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.” [HR. Ibnu Majah].[2]

Ini menjelaskan bahwa tidak sempurnalah keimanan seseorang manakala tidak disertai dengan ilmu. Jika dianalogikan, iman dan ilmu ibarat dua sisi mata uang. Mereka merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Karena apabila satu sisi di antara mereka itu tidak ada, akan menyebabkan keburukan pada sisi yang lain. Tanpa iman, sebuah ilmu akan dapat membawa kepada kehancuran. Sementara tanpa ilmu, iman menjadi egois dan jauh dari kebenaran.Read More »