Istighfar dan Jalan Keluar Permasalahan

tilawah
Sumber: Instagram @deddysussantho

Ternyata istighfar itu tidak hanya sebagai sarana pengampun dosa, tetapi juga jalan keluar pertama atas segala permasalahan kita. Karena banyak orang menganggap istighfar itu diucap ketika ada dosa atau sehabis bermaksiat saja, sementara mereka berlelah mencari kesana kemari solusi tatkala ditimpa berbagai masalah. Padahal, jalan keluar pertama kali semua persoalan itu adalah dengan beristighfar.

Mengapa istighfar menjadi jalan keluar atas segala permasalahan? Karena cobaan kehidupan itu kalau tidak ujian, ya adzab.

Ujian, diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa. Diadakan untuk mengetahui ‘kelulusan’ atas keimanan mereka. Apabila ujian itu terasa sempit dan pahit, tentu sebagai penggugur dosa. Istighfar adalah jurus jitu memperlancar penyucian diri atas semua ujian itu, selain upaya menepis prasangka negatif dan bisikan setan untuk merutuk keadaan. Maka, istighfarlah.

Adzab, ditujukan bagi mereka yang dzalim. Dihadirkan sebagai hukuman sekaligus pengingat bagi mereka yang melampaui batas. Istighfar menjadi jawaban atas kesadaran kesalahan-kesalahan, sekaligus harapan adanya perubahan. Maka, istighfarlah.

Istighfar adalah taubat, yang berarti ruju’ ilallah (kembali kepada Allah). Segala permasalahan itu dari Allah, maka jalan keluar tentu dengan mudah Allah berikan bagi mereka yang mau beristighfar.

Dikisahkan ada seorang lelaki mengadu kepada Hasan al-Bashri tentang panasnya Bumi dan beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah!” Seorang lagi mengadu tentang kemiskinan, namun Hasan al-Bashri juga berkata, “Beristighfarlah kepada Allah!” Seorang lain lagi berkata kepadanya, ‘Do’akanlah aku, agar Allah memberiku anak!’, tapi lagi-lagi Hasan al-Bashri hanya berkata, “Beristighfarlah kepada Allah!” Lain lagi menanyakan tentang kekeringan kebunnya dan beliau juga berkata, “Beristighfarlah kepada Allah!”

Banyak orang yang mengadukan permasalahan yang berbeda-beda, tapi Hasan al-Bashri memberikan satu arahan yang sama atas persoalan mereka tersebut, yakni beristighfar.

Hasan al-Bashri menerangkan, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri, tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh (ayat 10-12):

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا # يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا # وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا #

Artinya:
“Mohonlah ampun (istighfarlah) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”.

Masya Allah…

Istighfar menjadi penyebab bergugurnya dosa. Saat dosa terhapus, akan tampak dampak berbagai rupa. Ada banyak kebaikan (keberkahan) yang hadir. Setiap kesusahan serta kesedihan berganti kebahagiaan dan kemudahan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya:
“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad)

Masya Allah…

Sungguh istighfar menjadi jalan keluar pertama atas permasalahan yang kita hadapi. Sudahkah kita beristighfar 70 atau 100 kali, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hari ini?

Allahu a’lam. Semoga Allah meridhai.

(Kedaung, 27 Maret 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s