Setahun Perjalanan Cinta

fb8f3c07-162c-4a02-9c21-ada71a699239
Deddy & Amalia (Credit by @deddysussantho)

Masih teringat jelas bagaimana kesejukkan itu menjalar di perutku, saat tanganmu pertama kali melingkar dari belakang tempat duduk motor kita. Kemudian, kutempelkan telapak tangan kiriku di atas punggung tanganmu itu. Lalu kita sama-sama tertawa.

Saat-saat itulah yang paling kurindu. Berboncengan motor denganmu. Tak peduli kemana roda berputar, selama kamu di belakangku, menyentuh perutku dengan tanganmu dan kusentuh tanganmu dengan tanganku, aku merasa cukup.

Setelahnya, melalui kaca spion yang selalu sengaja kuposisikan agar kita bisa langsung bertatap, selalu ada rasa yang kita bagi. Seperti tawa yang kita tumpahkan pada angin pagi. Juga air mata yang kita titipkan pada tetes hujan di sore hari. Selama kamu bercerita, aku bahagia.

Karena dari sana aku jadi tahu, betapa sibuk dan seriusnya dirimu ketika mengajar anak-anak. Sampai-sampai turut mengantar pulang anak murid yang tidak dipedulikan (baca: dijemput) orangtuanya hingga malam. Lebih-lebih menangani dan dipercaya menanggulangi kasus degradasi moral yang menjangkiti anak-anak. Hingga-hingga menjadi tempat curhat orangtua mereka. Semua itu kamu lakukan dengan penuh dedikasi. Tak heran Bapak Kepala Sekolah merasa berat melepasmu tatkala aku datang untuk memberinya surat pengunduran dirimu.

Karena dengannya pun aku mengerti, bagaimana kisah masa lalu diri dan keluargamu. Juga tentang karakter dari saudara-saudara yang selama ini membersamai kita. Inilah kehidupan. Mengajarkan kita untuk patut mendekap kesabaran dan mengungkap kesyukuran.

Karena melaluinya, aku bisa paham, tentang kisah-kisah saat dulu kita di dakwah kampus, yang ternyata cukup lucu saat kembali kita putar. Menertawakan sesuatu yang dulu kita tangisi dan takutkan: amanah. Dan acapkali aku merasa takjub, bagaimana bisa perjuangan seberat itu kamu pikul dengan pundakmu yang mungil. Tapi mungkin beban itulah yang pada akhirnya menguatkan pijakanmu di jalan ini, seperti palu menempa paku.

Kita juga bisa bertukar pikiran tentang banyak hal: Menu apa yang hendak kita cipta; Apa saja yang perlu kita belanja; Akhir pekan ada berapa kondangan; Kegiatanmu apa; Agendaku apa. Semua kita bagi di perboncengan itu.

Meski di antara semua itu, sesekali kita membiarkan ruang kosong di udara dengan nafas-nafas panjang. Membiarkan bahasa mengemuka lewat dentingan detik di detak jantung kita. Menyelaraskan nadanya agar menjadi senyawa jiwa. Lalu entah mengapa, kita tiba-tiba saling mengerti tanpa perlu banyak bicara.

Semua seolah terekam jelas di kepalaku, bagaimana semua kenangan perboncengan itu. Tak terasa, banyak sudah yang kita jalani.

Dari perjalanan terjauh dalam memboncengmu selama ini adalah ke daerah Cibinong Bogor. Dalam rangka kondangan nikahan teman kerjaku. Persis sepekan setelah kita menikah. Deru dan debu perjalanan menjadi saksi, bahwa saat itu, untuk pertama kalinya, kamu bercerita tentang masa kecil dan pengalaman sakit waktu SD dulu, juga tentang kenangan masa kecil bersama keluarga dan saudara-saudaramu.

Sementara perjalanan terdekat kita mungkin ke perempatan yang berjarak beberapa belas meter dari rumah. Ya, apalagi kalau bukan untuk beli nasi uduk. Kita sering takjub sama Ibu-Ibu penjualnya, bangun jam 03.00 sudah dibilang kesiangan. Lah kita? Apalagi jam 06.30 dagangannya sudah habis. Coba, bikin sirik gak sih? Bisnisnya pagi doang. Setelah itu dia bisa nganter anak ke sekolah. Apa kita buka lapak juga nih?

Untuk yang terpagi, aku ingat sebelum adzan subuh berkumandang, pernah tiba-tiba kamu berbisik, “Aku laper, mau makan di warteg tapi dialasi kertas bungkus nasi.” Nah loh… jam 04.00 mau makan di warteg, mau bagaimana lagi. Ibu hamil! Inginnya adalah titah. Kehendaknya serupa petuah #halah. Akhirnya kita cari warteg di pagi buta. Numpang shalat subuh di Masjid Agung al-Jihad. Ujung-ujungnya, alhamdulillah, nemu warteg 24 jam deket rumah.

Sedangkan perboncengan termalam yang kita jalani ialah ketika kamu ngidam ingin makan bakso. Memang sih, udara cukup dingin dan hujan baru berhenti saat hampir tengah malam. Tapi (lagi-lagi) mau bagaimana lagi. Ibu hamil! Akhirnya, kamu ingat, kita susuri jalan sepi itu berdua disertai rintik hujan di tengah tiupan angin dingin malam. Mulai dari kontrakkan di kawasan Pondok Cabe kita cari satu persatu warung bakso. Tidak ada yang buka. Sampai akhirnya kita temukan warung bakso di daerah Kedaung (Ciputat) yang mungkin abang-abanynya lupa tutup karena asik nonton bola di toko jamu sebelahnya. Ah, rezekinya Ibu hamil.

Tak peduli bagaimana kondisi waktu dan medannya, selama tanganmu melingkar di perutku dan tanganku menyentuh tanganmu, aku gembira. Karena perboncengan itu adalah momen kita bisa duduk berdua saja. Seperti posisi shalat berjama’ah, kamu berada lurus di belakangku mengikuti kemana aku menggerakkan laju perputaran roda perjalanan ini. Karena hakikatnya, keindajan perjalanan itu bukan tentang kemana, tapi sama siapanya.

Saking ingin terus bersamamu, setiap kali aku mendapat undangan kegiatan, selalu kuajak dirimu menyertaiku. Sampai adik-adik kelas menilai kita romantis, bikin baper, atau apapun. Padahal itu adalah siasat biar kita bisa jalan-jalan. Sekalian membiasakan anak kita menghadiri kegiatan baik sejak di dalam kandungan.

Alhamdulillah anak kita telah lahir dengan nama yang gagah: Syawal Zaid Izdihar, kado terindah dari Allah untuk setahun pertama pernikahan kita.

Tak sabar aku menanti saat kita berbonceng bertiga. Melakukan perjalanan bersama. Penuh cinta. Hingga ke Jannah-Nya.
Kota Ambon, 3 Oktober 2016, 1st Anniversary

Ditulis oleh seorang onta (ojek cinta) yang hanya bisa menulis untuk mengabadikan perjalanan cintanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s