Karena Cinta Harus Diupayakan*

ternyata-itu-kamu
“Ternyata itu Kamu”

Alhamdulillahi ‘ala kulli hal…

Saat itu saya beranikan diri menanyakan apa mahar yang kamu inginkan. Seperti yang saya duga, kamu meminta waktu untuk itu. Hingga pada akhirnya, pagi sebelum Subuh, kubaca pesan Whatsapp yang telah kamu posting tengah malam lalu. Cukup banyak yang kamu sampaikan. Namun yang saya ingat adalah alinea pertama, di mana tersaji jawaban dari pertanyaan saya itu: Bacaan surah Ar-Rahman, lima tulisan khusus, dan sesuai kemampuan.

Tiga mahar ini membuat saya tertegun sekaligus bergumam, “Akhwat berkelas, maharnya pun berkelas (kreatif)”.

Alhamdulillah, dengan penuh pengertian, kamu menerima cincin dan kalung emas putih yang sebelumnya kita beli bersama sebagai salah satu mahar yang kamu minta. Namun jikapun saat itu kamu belum menghitungnya sebagai mahar, saya pasti akan memutar otak untuk mengerahkan apapun yang saya miliki untuk kamu. Tapi ternyata kamu menerima. Alhamdulillah. Jazakillah khairan. Karena demikianlah Islam, agar sang wanita menerima mahar semudah-mudahnya, sementara sang lelaki memberi mahar yang sebaik-baiknya.

Selesai dengan satu mahar, beralih ke mahar lainnya. Soal menghapal surah Ar-Rahman, kamu tahu, dulu saat kuliah, saya pernah berpikir bahwa menghapal al-Qur’an itu untuk Allah dan tak elok bila kita melakukannya untuk akhwat atau mahar. Solusinya adalah menghapalnya sebelum permintaan mahar hafalan itu datang. Saya pernah punya impian hafal tiga juz sebelum menikah, tapi baru sampai satu setengah juz, hafalan bukannya bertambah tapi malah cenderung berkurang.

Permintaan membaca surah Ar-Rahmah ini datang ketika saya mulai jarang menghafal. Saya tersenyum. Mungkin ini cara Allah untuk membuat saya kembali menghafal. Saya ingat pesan Murabbi ketika SMA, yang dulu ketika menikah juga diminta membaca surah Ar-Rahmah oleh calon isterinya, bahwa menghafal surah Ar-Rahmah itu mudah, karena cuma mengulang-ngulang. Akhirnya saya upayakan, bismillah, dan benar, menghapalnya hanya butuh beberapa hari saja (jika serius).

Alhamdulillah dua mahar selesai. Terakhir, lima tulisan khusus. Jujur, inilah permintaan yang membuat saya hampir tak bisa tidur dan tak terasa enak makan di Bulan September ini. Setiap harinya bagai detik deadline yang menghantui. Pasalnya permintaan ini datang di saat saya sudah tak lagi produktif menulis. Bagaimana mungkin inspirasi bisa dipaksa? Sempat saya berpikir untuk memberikan tulisan-tulisan lama yang menurut saya terbaik untuk dikumpulkan menjadi jawaban permintaan ini, namun saya urungkan.

Saya fokus pada kata-kata ‘tulisan khusus untukku’. Saya akhirnya menjadikan kesempatan ini untuk memberi pesan, nasihat, dan harapan-harapan saya untukmu. Maka jadilah kelima tulisan ini.

Pada bagian pertama, tersaji tulisan bertajuk “Sekelumit Awal Cerita”. Dibanding tulisan yang lainnya, judul ini adalah tulisan terakhir yang saya tulis. Di sini saya ingin menceritakan tentang hal yang luput saya ceritakan saat ta’aruf (semoga kamu berkenan), sekaligus menjadi latar belakang motivasi saya ingin menikah. Tulisan ini mengalir begitu saja. Maka maaf apabila tak ada fokus yang jelas atau diksi yang indah di dalamnya.

Sementara “Ternyata itu Kamu” adalah tulisan paling pertama yang saya tulis. Di sini saya ceritakan bagaimana perasaan saya berproses denganmu. Seperti berkelindan, tulisan ini seperti tindak lanjut cerita di tulisan sebelumnya.

Di tulisan “Bersabarlah…” awalnya saya ingin memberinya judul Belajar dari Ummu Salamah, tapi tidak jadi. Ummu Salamah adalah ummul mukminin yang saya favoritkan setelah Khadijah. Awal mula ketertarikan pada sosok isteri rasul yang satu ini adalah pasca membaca kisah yang saya ceritakan ini. Entahlah, ketika dulu membacanya, seperti ada ketertarikan tersendiri saya pada karakter yang dimiliki Ummu Salamah.

Pada bagian keempat, ada tulisan dengan judul paling panjang dari lainnya, “Tak Ada Cinta Melainkan Karena-Nya, dan Tak Ada Cinta Melebihi Cinta Kepada-Nya”. Lagi-lagi saya mengangkat kisah seorang shahabiyah favorit saya di dalam tulisan ini. Ingin sekali saya perbaiki tulisan ini, karena merasa kurang maksimal menyajikannya, namun selain tak ada waktu, saya ingin menyajikannya utuh kepadamu sebagaimana awal lintasan fikiran saya saat menuliskannya.

Kemudian tulisan kelima “Zamiluni… Zamiluni…” pada awalnya adalah bagian dari tulisan “Sekelumit Awal Cerita”. Namun setelah dirasa tak nyambung, akhirnya saya jadikan tulisan ini judul tersendiri. Mulanya saya berkeinginan mengangkat kekaguman saya terhadap sosok Khadijah. Pun begitu, ala kulihal, jadilah tulisan ini. Bukan puisi, bukan prosa, ah entahlah, hanya sebuah kata-kata yang tersusun dengan harapan semoga kamu memahami apa yang saya maksud.

Pada bagian akhir, saya tambahkan dua tulisan lama, yang saya hampir tak percaya pernah menuliskannya di awal kuliah. Kini, tulisan itu menjadi nasihat untuk saya dan kamu. Anggaplah ini sebagai nasihat dari masa lalu.

Sengaja saya jadikan kelima tulisan khusus ini ke dalam format buku binder khusus yang dapat dikreasikan. Inspirasi ini muncul di tengah kebuntuan saya memikirkan bagaimana cara menyajikan mahar “Lima Surat Cinta” saat akad nikah nanti. Saya pun tambahkan kertas-kertas kosong di belakang dengan maksud agar dapat menjadi catatan tambahan seiring perjalanan hidup kita. Karena, sejatinya, kisah kita baru saja dimulai.

Inilah maharku untukmu…

Inilah maharku untukmu
Seperti ini kumampu
Sepenuh hati kuberikan
Sebagai wujud cintaku

Maharku untukmu tulus kuserahkan
Kepada dirimu satu yang kupilih
Maharku untukmu agung karunia
Yang Allah berikan padaku untukmu

Terimalah sebaris doa
Semoga engkau bahagia
Dan kunyanyikan lagu ini
Persembahan cinta suci

[Maharku Untukmu – Nasyid Alief]

Semoga kamu suka.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimushalihat…

 

Kebon Sirih, 29 September 2015
Deddy Sussantho
*) Judul Diambil dari Karya Izzatul Jannah dengan Judul yang Sama

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s