Tutupilah Kesalahan Saudaramu

Tutupilah Kesalahan Saudaramu!

@deddy_ds

(1)
“Sesungguhnya orang-orang yg ingin agar berita perbuatan yg amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yg beriman, bagi mereka adzab yg pedih di dunia dan di akhirat,” [QS. An-Nur (24): 19]

“Hai orang-orang yg beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain,” [QS. Al-Hujurat (49): 12]

Nabi Saw bertanya, “Tahukah kamu siapakah orang Muslim itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi Saw bersabda, “Orang Muslim adalah orang yang Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Para sahabat bertanya, “Siapakah orang Mukmin itu?” Nabi Saw menjawab, “Orang yang kaum mukminin merasa aman terhadap diri dan harta mereka dari gangguannya.” Para sahabt bertanya, “Siapakah orang yang berhijrah itu?” Nabi Saw menjawab, “Orang yang menghindari keburukan dan menjauhinya.” (HR. Thabrani)

“Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) seorang hamba yg lain kecuali Allah pasti akan menutupi aibnya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim)

(2)
Menutupi aib atau keburukan orang lain adalah akhlak dan hak yg perlu ditunaikan seorang muslim kepada muslim lainnya. Dalam Ihya’ Ulumudin yg disarikan oleh Sa’id Hawa, Imam Al-Ghazali menjabarkan 24 poin hak-hak sesama muslim. Dari 24 poin tersebut, 5 poin secara eksplisit dan implisit membahas tentang menjaga kehormatan dan menutupi aib orang lain. Ini menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut.

(3)
Membicarakan keburukan atau aib orang lain adalah dilarang. Karena jika itu benar maka menjadi ghibah, sedang jika itu salah maka menjadi fitnah. Karena itu, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.” Namun jika berkenaan dengan amar ma’ruf nahi munkar, maka tidak ada rukhshah untuk diam.

(4)
Jika ada kesalahan atau keburukan pada saudara kita, hendaklah kita memaafkan dan melupakannya. Kita tidak dibenarkan menyebarkannya jika tidak dengan alasan mendesak. Fudhail bin Iyyadh rahimahullah mengungkapkan, “Seorang mukmin akan senantiasa menutupi kesalahan saudaranya. Adapun orang fajir (jahat), ia akan selalu menjatuhkan saudaranya dan mencelanya.” Lebih jauh Ibnu Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Orang Mukmin mencarikan berbagai udzur, sedangkan orang munafik mencari-cari kesalahan.”

Sikap terbaik dikala menemui keburukan pada saudara kita adalah bermuhasabah. Rasulullah Saw bersabda, “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Maka laiknya bercermin, ketika mendapati kecacatan pada saudara kita, yg perlu dibenahi terlebih dahulu adalah diri kita.

(5)
Para ulama salaf sangat membenci amar ma’ruf nahi nungkar yg dilakukan di khalayak ramai. Hal itu karena bisa menyebarkan aib orang yg dinasihatinya. Mereka lebih senang menyampaikannya secara sembunyi-sembunyi yg terbatas hanya antara yg menasihati dan yg dinasihati. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berujar, “Nasihati aku ketika sendiri, jangan nasehati di kala ramai, karena nasehat di kala ramai itu bagai hinaan yg melukai hati.”

(6)
Banyak kisah yg dapat kita pelajari:
1. Kisah wanita al-Ghamidiyah yg datang kepada Rasulullah Saw untuk mengakui perbuatannya berzina. Rasulullah Saw senantiasa menyuruhnya pulang.
2. Umar bin Khattab mendapati sepasang sejoli yg berbuat keji di malam hari, namun kemudian urung menjatuhi had (hukuman) atasnya.
3. Abdullah bin Mas’ud yg menasihati seorang paman yg mengadukan keponakannya yg telah mabuk.

*) Ada yg belum tahu kisahnya? Panjang soalnya. 😅

(7)
Imam Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan salah satu karakter seorang muslim, “Dan kita (seorang muslim) tidak mengatakan bahwa mereka (saudara semuslim) adalah kafir, musyrik, atau munafik sebelum jelas hal itu pada diri mereka dan kita memyerahkan isi hati mereka kepada Allah, karena mereka kita hanya diperintahkan untuk menghukum mereka terhadap apa yg nampak dari perbuatan mereka. Sebaliknya, kita dilarang untuk sekadar mengikuti prasangkap-prasangka dan apa-apa yg tidak berlandaskan ilmu.”

(8)
Orang-orang yg diperintahkan untuk menutupi suatu kemaksiatan:
1. Orang yg terlanjur melakukan kemaksiatan tanpa disengaja.
2. Orang yg menyaksikan suatu kemaksiatan.
3. Penguasa, raja, atau pihak-pihak yg berwajib dlm masalah ini.

Mereka perlu menutupi kesalahan orang-orang yg berbuat kemaksiatan dan menyuruhnya bertaubat, selama kemaksiatan mereka belum tersebar. Namun jika kemungkaran yg telah terbukti dgn jelas dan hukuman telah dijatuhkan, maka wajib dijalankan.

(9)
Hikmah disyariatkannya menutupi kesalahan:
1. Menutupi aib adalah sifat Allah. Allah cinta hamba yg bersifat dengan sifat-Nya.
2. Seorang pelaku maksiat yg blm terbongkar kemaksiatannya akan tersimpan rasa malu dalam hatinya. Pembeberan aib dapat menghilangkan rasa malu dan takut lantaran seolah perbuatan aib itu sudah menjadi biasa.
3. Akan diperoleh kemashlahatan yg banyak. Pelaku akan bertaubat dan berupaya menutupinya dengan amal shalih.
4. Nasihat yg baik akan mampu membuka hati manusia yg tertutup. Sebaliknya, mencari-cari kesalahan dapat melukai hati mereka, menjatuhkan kehormatannya, dan membeberkan aibnya.

(10)
Ada kondisi dimana aib boleh diungkapkan (bisa dilihat di Kitab Riyadhush Shalihin, Imam An-Nawawi:

1. Mengadukan kezhaliman seseorang kepadanya.
2. Minta tolong dalam rangka mengubah kemungkaran dan mengajak pelaku ke jalan yg benar.
3. Meminta fatwa kepada ulama dengan menceritakan contoh kezhaliman seseorang.
4. Memperingatkan kaum muslimin agar waspada terhadap kejahatan seseorang.
5. Menindak seseorang yg pamer akan kejahatannya.
6. Memperkenalkan seseorang seperti bilang “Si Buta atau Si Tuli” tanpa niat mengejek. Namun menghindari sebutan ini lebih utama.

Referensi:
1. Tutupilah Kesalahan Saudaramu – Khalid Ibnu Abdurrahman Asy-Syayi
2. Tazkiyatun Nafs – Sa’id Hawa
3. Riyadhush Shalihin – Imam Nawawi
4. Shifatush Shafwah – Ibnul Jauzi

(Kebon Sirih, 10 Juli 2015)
deddysussantho.wordpress.com

View on Path

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s