INGIN PANDAI KOMUNIKASI? INI DIA CARANYA!

Apapun profesi kita, kebutuhan akan komunikasi yang baik merupakan sebuah keniscayaan. Menurut sebuah survey, ada beberapa faktor yang memengaruhi kesuksesan kita. Diantaranya adalah pendidikan formal. Alangkah mengejutkan, faktor yang menguras sebagian besar waktu kita ini hanya berpengaruh 29% terhadap kesuksesan seseorang. Selanjutnya adalah faktor kepribadian. Memiliki sifat yang supel, jujur, amanah, dan hal positif lainnya ternyata juga memiliki andil terhadap kesuksesan sebanyak 30%. Lain halnya dengan skill berpikir. Ya, mampu menggagas ide kreatif dan cemerlang bukan perkara mudah. Itu sebabnya porsi ini memiliki persentase lebih tinggi, yakni 64%. Menariknya, ada satu faktor lagi yang porsi pengaruhnya lebih besar ketimbang pendidikan formal, kepribadian, dan skill berpikir. Benar sekali, faktor itu adalah skill komunikasi. Faktor ini memiliki pengaruh 71%!

Bayangkan saja jika ada profesor mengajar tentang sebuah bidang ilmu, tapi tak mampu mengomunikasikannya dengan baik, besar kemungkinan akan ada gap kemengertian antara dirinya dengan para muridnya. Alhasil, mungkin saja ia cerdas, tapi tidak mampu mencerdaskan muridnya.

Juga katakanlah ada orang baik. Dirinya saleh dan jujur. Tapi jarang berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya, sehingga dirinya kurang dekat dengan mereka. Ia pun jadi kurang jaringan (link). Kalau sudah kurang jaringan, bagaimana dapat peluang sukses? Maka sangat masuk akal jika agama mengatakan siapa yang rajin bersilaturahim akan lancar rezekinya. Apalagi Islam mengajarkan kita untuk selain menguatkan hubungan baik kepada Allah (habluminallah), juga menguatkan hubungan baik kepada sesama (habluminannas). Buat apa punya kepribadian baik, tapi pasif. Mungkin saja dia baik, tapi tidak mampu menjadikan baik orang-orang di sekitarnya.

Lalu sebutlah ada orang yang kreatif, seorang penemu, pemikir besar. Coba tebak apa jadinya jika ia tidak punya skill komunikasi yang baik? Sudah tentu gagasannya tidak bisa disampaikan ke orang banyak. Ujung-ujungnya, kalau orang-orang tidak tahu urgensinya, ide itu tetap saja jadi ide, tidak melahirkan manfaat bagi orang banyak.

Tapi mari kita balik. Ada orang yang skill komunikasinya baik, tapi pendidikannya tidak tinggi, bisakah sukses? Bisa! Banyak kok buktinya. Motivator No.1 Indonesia, Andrie Wongso, konon dirinya tidak lulus SD. Asma Nadia, dirinya tidak selesai kuliahnya. Tapi mereka sukses, kan?

Lalu apa yang terjadi kalau skill komunikasinya baik, tapi tidak punya kepribadian yang baik? Tak usah pusing. Lihat saja mereka yang kaya raya atau para penguasa zhalim. Mereka sukses karena punya banyak uang dan menduduki posisi yang tinggi. Kalau di depan rakyat mereka bermulut manis. Tapi banyak di antara mereka ternyata koruptor dan bermoral buruk.

Oke, selanjutnya punya skill komunikasi yang baik, tapi tidak punya kreativitas. Bisakah sukses? Bisa saja. Selama dirinya membangun relasi dan memanfaatkan peluang sukses di sekitarnya, ditambah kemauan untuk belajar yang tinggi, insya Allah bisa sukses. Toh, orang yang tidak kreatif bukan berarti tak bisa mikir alias idiot, kan?

Sudahlah, panjang lebar saya jabarkan ini bukan untuk bikin pusing Anda. Tapi untuk menyadarkan kepada Anda bahwa komunikasi itu memang penting adanya! Karena selama kita hidup, komunikasi itu tetap ada, baik secara verbal maupun non-verbal. Maka dari itu tidak boleh tidak diperhatikan.

Masalahnya, bagaimana caranya agar kita melatih kemampuan komunikasi yang baik? Oke, sebelum berbicara ‘bagaimana’, kita bahas dulu ‘apanya’. Apa itu komunikasi yang baik? Mudah saja. Komunikasi yang baik itu yang kita mampu memahamkan orang lain saat kita menyampaikan, dan mampu mengerti pesan yang disampaikan orang lain kepada diri kita.

Kalau ada suatu pesan yang kita kurang mengerti, bukan otomatis lawan komunikasi kita kurang cerdas dalam menyampaikan. Tapi bisa jadi kitanya yang kurang cerdas dalam memahami. Begitu pula sebaliknya. Kalau orang lain kurang paham apa yang kita sampaikan, bukan berarti orang tersebut bodoh. Tapi mungkin saja kitanya yang kurang mampu memahamkan.

Pada kesempatan kali ini, saya akan lebih banyak mengupas soal bagaimana melatih komunikasi verbal menurut pengalaman saya sebagai praktisi komunikasi (pembicaradanpenulis). Karena di beberapa kesempatan, saya kerap mendapati pertanyaan yang kurang lebih jika disampaikan dengan bahasa saya seperti ini, “Bagaimana caranya kita bisa pandai memahami dan pandai memahamkan?” Ini dia caranya! Cukup dengan 4M+4L, yakni mendengar, membicara, membaca, dan menulis. Lalu apa itu 4L? Anda akan segera tahu.

Pandai berbicara dan menulis adalah harapan kita. Itu hasilnya. Tapi laiknya memasak, berbicara dan menulis memerlukan bahan. Ketika bahan-bahannya sudah siap, kita akan mudah untuk mengolahnya menjadi ‘masakan’ bermacam rupa. Sebaliknya, kalau bahannya kurang malah atau tidak ada, jangankan membahas rasa, makanannya ada saja belum tentu. Oleh sebab itu kita kita perlu mengetahui apa saja bahan dari komunikasi itu.

Bahan komunikasi adalah informasi. Tanpa informasi, apa yang mau disampaikan? Jika kita lihat seorang dosen, motivator, atau para penulis kawakan favorit kita, mungkin kita sempat bertanya, “Kok bisa ya ia bisa bicara sampai berjam-jam?” atau “Bagaimana caranya ya dia menulis sampai beratus-ratus lembar seperti itu?” Mudah saja. Jawabannya adalah kareka mereka memiliki kapasitas informasi yang luas dan dalam.

Untuk itu, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengonsumsi banyak informasi lewat mendengar dan membaca. Mustahil kiranya orang pandai bicara dan menulis kalau jarang mendengar dan membaca. Mungkin bisa. Tapi rentan dengan kerapuhan dan kekosongan makna. Sehingga ia lama bicara atau berlembar-lembar menulis, tapi tidak sedikitpun manfaat yang disampaikan.

 

Mendengar

Seorang pembicara yang baik adalah pendengar yang baik? Itu kaidah umum. Semua orang tahu itu. Maka itu latihlah kemampuan mendengar kita. Jika ada orang yang berbicara, apalagi yang sedang bicara adalah seseorang yang hebat, janganlah cuma jadi penonton, tapi pendengar! Tidak hanya pendengar, tapi juga penyimak! Amati bagaimana mereka merangkai kata-kata; bagaimana mereka bergerak dan menguasai panggung; bagaimana cara mereka menghipnotis orang banyak dengan penampilannya; dan lain sebagainya. Amati dan manfaatkan kelebihan mereka untuk kita pelajari dan praktekkan. Kalaupun ada yang kurang pada mereka, perhatikan juga! Karena itulah yang harus kita hindari saat berada di posisi seperti mereka. Bayangkan, ibarat sekali dayung dua pulau terlampaui! Hanya dengan mendengar, kita meraup untung dan membuang rugi sekaligus!

Dengan sering mendengar, selain kaya akan informasi yang didapat, kita pun terbiasa bersinggungan dengan berbagai macam karakteristik ucap dan sikap orang dalam berbicara. Kosakata pembicaraan pun semakin banyak di pembendaharaan kita. Dengan begitu kita akan lebih bijak dalam memahami sebuah pesan yang disampaikan.

Tapi perlu diketahui, kemampuan mendengar itu dibangun di atas sikap kerendahan hati. Dan ini bukan melulu tentang sikap kita kepada orang yang lebih hebat, tapi juga kepada semua orang di sekitar kita. Bagaimana saat ada anak kecil, orangtua, atau orang yang tidak sekolah sedang berbicara, kita mau dan mampu mendengarkan mereka, berempati untuk mengerti. Ingat, kita akan diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan orang lain!

Bukanlah pendengar yang baik jikalau sombong, merasa sudah pintar, dan enggan belajar. Namun seorang pendengar yang baik, adalah mereka yang selalu merasa bodoh sehingga tidak ada kata cukup untuk menimba kebaikan di sekitar mereka. Lagipula Allah berikan satu mulut dan dua telinga agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara (yang tidak bermanfaat).

 

Membicara

Mungkin kita telah sering mengamati orang lain berbicara. Teori-teori berbicara efektif pun sudah menumpuk di kepala. Lalu apa yang perlu dilakukan? Mudah saja: latihan. Ya, apa lagi kalau bukan latihan? Karena setiap orang punya potensi ini. Potensi untuk berbicara. Namun seperti pisau, tanpa latihan potensi ini akan tumpul dan karatan. Misal kata, buat apa belajar berenang kalau tidak pernah terjun ke kolam.

Lantas bagaimana cara melatihnya? Ambil semua kesempatan bicara yang ada di sekitar kita! Entah tawaran jadi MC, mengikuti forum-forum diskusi, mengajar bimbel, membacakan pidato atau melakukan presentasi di depan kelas, membacakan al-Qur’an saat pembukaan sebuah acara, dan tentu masih banyak lagi.

Tapi kan malu! Ah, cerita lama. Malu itu wajar. Tapi kalau malu terus yang jadi alasan, itu namanya malu-maluin. Tapi kan belum terbiasa! Kalau tidak dicoba, kapan kita akan terbiasa? Tapi kalau gagal bagaimana? Ya coba lagi. Siapapun pernah gagal, termasuk seorang pembicara sekaliber dunia sekalipun. Mereka tidak langsung sukses di penampilan pertama. Awal-awalnya, mereka pasti grogi dan terbata-bata. Tapi dari sanalah mereka belajar untuk menjadi lebih baik. Kalau mereka sudah jauh berpijak, kenapa kita tidak coba menjejak? Bukan menghindari grogi, tapi malah menikmati dan mengendalikanya. Bukan merasa terbebani untuk sukses pertama kali, tapi selalu menjadikan setiap kesempatan bicara sebagai ajang pembelajaran!

Karena hanya dengan melatih bicaralah kemampuan oral kita akan terasah. Selain itu kita pun semakin terbiasa untuk bersinggungan dengan orang banyak dan semakin luaslah kazanah pengalaman kita dalam menyampaikan dan memahamkan suatu pesan kepada orang lain. Sudahlah, jangan banyak alasan. Manfaatkan semua kesempatan bicara yang ada. Kalau kita lewati, artinya kita menyiakan peluang untuk jadi seorang pembicara yang baik! Itu sama saja kita tidak bersyukur sama Yang Maha Pemberi Peluang!

 

Membaca

Banyak mendengar itu baik. Sering bicara itu bagus. Tapi jangan pernah puas dengan itu. Asupan ‘gizi’ informasi perlu selalu ditambah secara mandiri. Jangan sampai ketika tidak ada yang kita amati, kita jadi berhenti berproses. Itulah mengapa membaca turut menjadi kebutuhan kita.

Jika kita hanya mengandalkan pendengaran, yakinlah bahwa informasi yang kita itu terbatas pada ruang dan waktu. Juga terbatas pada kapasitas kepemahaman orang yang kita amati. Apakah kita ingin berada di bayang-bayang mereka selalu? Tentu tidak. Kita perlu menambah jalur ilmu kita lewat membaca.

Dengan membaca, kita akan menemukan kosakata-kosakata baru dan keragaman kreativitas para penulis dalam memainkan kata dan rasa. Ada tulisan yang sastrawi, lugas, romantis, atau bahkan terkesan magis! Sehingga tak ayal para pembaca kelimpungan karenanya. Selain itu, informasi yang kita dapat sudah tentu lebih luas dan dalam. Maka jangan remehkan kemampuan membaca ini.

Saya yakin, urgensi membaca sudah jamak kita pahami bersama. Akan tetapi terkendala oleh satu hal, rasa malas. Betul? Kalau sudah keluar alasa ini, tamatlah riwayat kita. Tak ada harapan! Tapi kalau alasannya masih belum terbiasa membaca, ini masih lebih baik. Artinya, kalau belum biasa, ya makanya dibiasakan.

Caranya adalah menguatkan kemauan di awal. Tentu saja. Karena semua bermula dari kemauan. Kalau sudah kuat kemauannya, saya yakin meski di tengah perjalannya ia merasakan malas, ia lebih memaksakan diri untuk membaca meski sedikit. Ini semata-mata untuk mendisiplinkan diri.

Ada baiknya kita melatihnya dengan membuat target kuantitas bacaan. Misalnya, satu minggu satu buku. Seiring berjalannya waktu bisa kita tambah sesuai kemampuan. Setelah itu buat juga target kualitas bacaan. Jangan cuma baca buku dari penulis yang itu-itu melulu. Karena kemampuan pembahasaan kita akan terpengaruhi sebagaimana karakteristik bahasa penulis. Juga jangan baca buku yang genrenya itu-itu selalu. Misalnya karena suka sama yang cinta-cintaan, kita bacanya cinta-cintaan melulu. Alhasil, jadilah kita komunikator yang melankolis dan puitis, tapi norak abis! Jelas ini tidak baik. Perluas bacaan kita. Bukankah seperti analogi di awal, semakin luas dan dalam bahan bakunya, kita mampu memasaknya menjadi berbagai macam rasa dan bentuk makanan?

 

Menulis

Jika mengaca pada sejarah Indonesia, Bung Karno itu dikenal sebagai pembicara ulung. Apakah ia juga menulis? Mungkin, tapi tidak sebanyak Bung Hatta. Kita tahu, betapa akrabnya Bung Hatta dengan dunia tulis menulis. Tapi apakah Bung Hatta bisa berbicara di depan umum? Mungkin, tapi tidak selihai Bung Karno. Lengkaplah sudah. Mereka pasangan serasi yang saling melengkapi.

Tapi di zaman yang serba canggih begini, kita perlu kemampuan yang canggih juga. Tidak bisa hanya membicara, tapi juga menulis. Harus dua-duanya. Tidak boleh salah satu. Yah, meski ini pilihan, tapi akan lebih bijak kalau kita pilih seimbang, dua-duanya. Bayangkan, dua kemampuan ini pasti akan kita gunakan sampai kapanpun!

Saat kuliah saja, kita dituntut untuk bisa keduanya. Orang yang pandai bicara saat presentasi dan cakap saat membuat karya tulis akan mendapatkan nilai yang lebih maksimal. Ya, semua orang tahu itu. Begitupun dalam kehidupan ini. Yang punya dua kemampuan ini akan memiliki nilai yang lebih daripada orang yang hanya menguasai salah satunya.

Maka tunggu apa lagi? Mulailah belajar menulis. Tapi apa yang harus saya tulis? Apa saja. Bisa pengalaman, perasaan, pemikiran, atau apa pun. Selama isinya tidak ngajak orang kepada kesesatan, tulis saja. Mulailah dari bahan yang Anda punya. Misal Anda suka musik, maka coba ulas tentang musik. Anda suka kuliner, cobalah tulis itu. Kata penulis kondang, Helvi Tiana Rosa, tiga jurus untuk jadi penulis adalah menulis, menulis, dan menulis!

Karena dengan menulis, kita akan terbiasa berinteraksi dengan kata-kata, mendiaspora rasa di dada, pandai penyihir emosi pembaca, juga akrab dengan struktur alur yang rapi. Sehingga tak heran seseorang yang pandai menulis ketika berbicara kata-kata runut dan terkesan elegan. Yah, meski tidak selalu seperti itu. Karena ada pula yang biasa menulis, tapi ternyata tidak pandai bicara, begitu pun sebaliknya.

Yang perlu ditanamkan sejak dini adalah kita bisa menulis. Buktinya, setiap hari kita menulis SMS, buku diari, atau bahkan menulis sejarah hidup kita (ini sih beda -.-‘). Maka sekarang kita hanya perlu mengasahnya saja. Bagaimana? Ya dengan latihan. Sebagai awalan, cobalah tiru dan modifikasi gaya kepenulisan buku yang sering Anda baca. Lama-kelamaan karakter Anda pun akan terbentuk dengan sendirinya. Lalu ada baiknya membuat target menulis. Misalnya, satu minggu satu tulisan. Lalu buatlah variasi, misal minggu ini menulis tentang artikel, minggu selanjutnya menulis cerpen, lalu puisi, resensi, dan lain sebagainya. Ini hanya masukan. Artinya, Anda tentu bisa membuat pola pembelajaran menulis sendiri yang lebih cocok dengan Anda.

Selanjutnya, jangan ragu untuk memublikasi hasil tulisan Anda. Bisa dicetak jadi buku, via media massa atau melalui blog pribadi. Dengan memublikasi kita akan tahu, bagaimana kualitas komunikasi kita. Sudahkah kita mampu memahamkan orang yang membaca tulisan kita? Cobalah share tulisan Anda kepada teman-teman. Minta pendapat mereka, apa kurang dan lebihnya tulisan Anda. Dengan begitu Anda bisa belajar untuk memerbaikinya.

Begitulah. Selamat mencoba 4M ini untuk mengasah kemampuan komunikasi kita. Oia, saya belum mengungkapkan apa itu 4L. Tapi meski saya tidak sampaikan, tentu Anda sudah dapat menebaknya. Betul sekali. 4L itu adalah Latihan, Latihan, Latihan, dan Latihan!

 

[Limo, 2 Syawal 1433H/20 Agustus 2012]

Advertisements

24 thoughts on “INGIN PANDAI KOMUNIKASI? INI DIA CARANYA!

  1. tapi saat kita di depan umum
    pokok pembicaraan dalam otak menghilang dan ada rasa malas berbicara yg tiba2 muncul.
    tapi terima kasih tentang infonya

  2. Sperti sebuah penunjuk arah yg pernah saya temui. Namun ragu untuk menapakinya. Setelah menemukan artikel ini. Jelas, sekali saya akan mencobanya.
    Trims, tulisan yg bagus dan bermanfaat

  3. terimakasih, dari sini saya belajar banyak hal, terutama tidak takut untuk gagal, karena semua orang pasti pernah mengalami sebuah kegagalan dalam hidupnya,

  4. Artikelnya bagus banget.

    Dengan membaca artikel ini, saya sangat termotivasi untuk melakukan 4M, dan pastinya 4L. 😊

    감사합니다

  5. makasi ya dengan membaca artikel ini sya bisa merubah pemikiran dan akan melakukan merealisasikan kemampuan saya

  6. Sangat bermanfaat pak..tapi saya punya kendala pak.. Jujur saya kalau berkomunikasi dengan orang lain maupun guru bisa dibilanh saya lihai dan mudah membangun relasi…tetapi jika bicara dengan anggota keluarga sendiri saya suka segan atau ketika berbicara dengan mereka saya suka kyk orang kebingungan pak…kecuali Ibu saya dan saya.. Kalau seperti itu solvenya gmana ya pak? Makasih sebelumnya

  7. wah benar2 bagus masukanya, hebat mudah dimengerti &mudah dicermati.kata katanya sangat bagus jadi menambah semangat untuk belajar terimakasih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s