MASYA ALLAH, TERNYATA KAMU MAHASISWA KEREN! (Part. 3)

Kamu mahasiwa yang punya banyak impian, itu bagus! Kalau sudah punya banyak agenda usaha untuk merealisasikannya, itu lebih bagus lagi. Tapi pertanyaannya adalah, apakah kualitas usaha yang kamu lakukan di setiap agenda sudah sebanding dengan kuantitas impianmu? Maksudnya, apakah setiap urusanmu terlaksana dengan baik?

Mungkin iya, karena semua urusan sudah diatur dengan manajemen waktu yang baik. Hanya saja, terkadang ada beberapa di antara urusanmu yang bentrok satu sama lain. Padahal, kamu pikir semua urusan itu sama-sama penting. Lalu akhirnya kamu pusing tidak tahu harus memilih yang mana harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalakn. Saking lamanya kamu berpikir, waktu terus berlalu, dan akhirnya kamu tidak melakukan apa-apa. Urusanmu pun akhirnya berantakan sama sekali.

Nah, hal-hal seperti itu tidak akan terjadi sekiranya kamu dapat menentukan skala prioritas dari semua urusanmu. Memang setiap orang berbeda-beda dalam menentukan skala prioritas, tergantung pola pikir dan kesenangannya. Tapi sekarang kamu sudah menjadi mahasiswa, yang sudah harus lebih dewasa dan bijak dalam menentukan mana yang baik atau buruk, mana yang benar atau salah. Maka dari itu, berikut ada beberapa indikator pertimbangan agar kamu mudah menentukan prioritasmu, sehingga kamu tahu mana yang harus didahulukan dan mana yang harus dikesampingkan.

 

MENENTUKAN SKALA PRIORITAS

Menentukan skala prioritas itu sangat penting. Bahkan dalam Islam pun, Yusuf Qordhowy menghimpunnya dalam sebuah buku berjudul “Fiqh Prioritas”. Nah, dalam konteks manahemen waktu, banyak aspek yang dapat kamu jadikan pertimbangan dalam menentukan skala prioritas. Untuk lebih jelasnya, ada beberapa indikator sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan skala prioritas:

 

Lihat Untung Ruginya

Prioritas akan semakin tinggi manakala mendekatkanmu pada tujuan atau kebutuhan. Sebaliknya, suatu urusan yang tidak mendekatkanmu pada kepentinganmu, atau malah tidak memberi manfaat apa-apa untukmu, itu kecil prioritasnya. Jika ada beberapa urusan yang bertumpuk, pilihlah yang paling bermanfaat untukmu.

Nilai keuntungan juga akan semakin tinggi manakala hal tersebut jarang kamu temukan. Tidak sering kamu lakukan. Namun satu hal yang perlu kamu ingat, bahwa yang namanya keuntungan itu bukan hanya diukur dari nilai material belaka. Tapi kesempatan belajar, punya banyak teman, dapat pengalaman, dan membuat kamu lebih tenang adalah bentuk keuntungan juga.

Sebagai contoh, mana yang akan kamu prioritaskan?

  1. Main ke rumah teman untuk silaturahmi jam 13.00 WIB.
  2. Ikut pelatihan Public Speaking dari jam 08.00 sampai 17.00 WIB.
  3. Rapat pukul 15.30 WIB.

Kamu bisa lebih memprioritaskan agenda kedua. Karena itu sangat berguna buat kamu. Lebih-lebih acara itu jarang sekali terjadi. Sementara agenda pertama bisa kamu lakukan di lain kesempatan. Sedang agenda ketiga, tergantung. Tergantung peran kamu dan juga jumlah kelompok. Kalau kamu jadi pemimpin rapat dan tidak ada teman lagi yang bisa kamu delegasikan untuk memimpin rapat menggantikanmu, ya otomatis kamu harus memutuskan: mengganti hari rapat (setelah memberi penjelasan kepada teman-teman), tetap ikut acara pelatihan tapi ketika waktu rapat kamu izin pamit, atau tidak ikut pelatihan sama sekali. Tapi kalau di rapat tersebut kamu cuma sebagai anggota yang kurang berperan, mungkin kamu bisa izin untuk tidak ikut rapat dulu hari itu.

 

Tingkat Partisipasi dan Kontribusi

Dari contoh di atas, kenapa kamu harus mengutamakan rapat yang kami pimpin daripada acara pelatihan? Karena kamu harus lebih mengutamakan kewajiban daripada hak. Pada agenda rapat, ada tanggungjawab yang harus kamu selesaikan. Hal ini akan berdampak jauh ke depan. Bayangkan, jika kamu punya banyak impian untuk kamu realisasikan, tapi ternyata tingkat kesadaranmu akan kewajiban dan tanggungjawabmu rendah, bagaimana kamu akan mendapatkan kesuksesan itu? Maka itu, ada baiknya kamu dahulukan apa yang telah kamu janjikan.

Dalam hal ini, ada dua jenis kondisi:

  1. Agenda yang tanpa kamu, agenda itu masih bisa berjalan.
  2. Agenda yang tanpa kamu, agenda itu tidak bisa berjalan.

Maka kamu sebaiknya memprioritaskan opsi yang kedua. Karena kamu lebih dibutuhkan di sana. Contoh kasus, berikut ini mana yang lebih kamu perioritaskan?

  1. Menjadi pembicara di sebuah seminar.
  2. Ikut pelatihan menulis gratis di Ciputat.
  3. Ikut forum diskusi tentang perkembangan teknologi Indonesia.

Tentu kamu memprioritaskan opsi pertama. Kenapa? Karena di situ ada tanggungjawab yang lebih besar. Kalau kamu tidak datang, kamu jadi menyalahi janji, dicap jelek, dan menyusahkan panitia. Kalau kamu tinggalkan, jelas lebih banyak ruginya daripada untungnya. Sementara opsi kedua dan ketiga masih bisa berjalan tanpamu. Masih bisa kamu lakukan di lain waktu.

 

Genting dan Penting

Ada empat kondisi dalam hal ini:

  1. Genting dan Penting
  2. Genting tapi tidak penting
  3. Tidak genting tapi penting
  4. Tidak genting dan tidak penting

Urusan yang genting maksudnya adalah yang mendesak untuk segera kamu lakukan. Kalau tidak kamu lakukan, bisa-bisa akan berdampak buruk buat kamu. Sementara urusan yang penting adalah yang bermanfaat dan kamu punya tanggungjawab di dalamnya. Yang menjadi prioritas adalah yang genting. Meski tidak penting, tapi ketika sudah genting, maka akan jadi penting dan harus diprioritaskan.

Contoh:

  1. Mengerjakan tugas kuliah yang akan dikumpulkan minggu depan.
  2. Ke kamar kecil karena tidak kuat menahan gejolak BAB.
  3. Liburan ke luar kota untuk refreshing.
  4. Kerja sebagai freelancer reporter (kerja paruh waktu).
  5. Menggosip tentang perceraian artis idaman.

Mana yang kamu dahulukan? Mari telaah terlebih dahulu…

Pertama, tugas kuliah memang penting. Tapi tidak terlalu mendesak untuk kamu kerjakan saat itu juga. Jadi jangan dibuat pusing.

Kedua, BAB memang terkesan remeh temeh, tidak penting. Tapi sangat genting. Bahaya kalau tidak dilakukan. Maka opsi ini jadi salah satu yang diprioritaskan.

Ketiga, liburan ke luar kota memang bagus. Tapi perlu dilihat kondisinya. Kalau ternyata di saat yang sama masih banyak urusan atau kerjaan yang mesti dikerjakan, maka liburan jadi tidak penting. Tapi sebaliknya, kalau ternyata kondisi sudah sangat jenuh terhadap kerjaan, maka liburan menjadi genting. Harus segera dilakukan karena berguna sebagai penstabil kejiwaan.

Keempat, kerjaan itu penting. Kalau ditinggalkan atau terlambat dilakukan akan berdampak buruk buat kamu, maka menjadi genting. Oleh karena itu hal ini bisa dijadikan prioritas.

Kelima, jelas gosip adalah perbuatan tidak penting dan tidak genting. Jadi harus ditinggalkan. Tidak memberi manfaat apa-apa. Hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Bikin dosa.

Berdasarkan nomornya, maka bisa diurut sesuai skala prioritasnya: 2-4-1-3-5.

Dahulukan yang Mudah dan yang Kamu Senangi

Prioritaskanlah urusan yang kamu anggap mudah dan kamu senangi. Karena hasilnya tentu akan maksimal jika kamu merasa mudah dan menyenangi pekerjaan tersebut. Mendahulukan yang mudah terlebih dahulu akan memberikanmu waktu singkat pengerjaan urusan, sehingga kamu masih punya waktu banyak untuk menyelesaikan urusan-urusan yang lain. Kemudian memilih yang kamu senangi akan membawamu pada semangat yang tinggi, sehingga urusan akan terselesaikan dengan baik.

Namun hal mudah di sini bukan berarti kamu jadi orang malas yang enggan berusaha lebih. Senang juga bukan berarti kamu menjadi egois dan hanya mengerjakan hal-hal yang membuatmu senang, sementara kepentingan orang banyak kamu abaikan.

Jadilah orang bijak yang dapat menentukan skala prioritas tidak hanya berdasarkan hal-hal sesaat atau duniawi semata, tetapi juga memikirkan efek jangka panjang serta kepuasan ruhani (akhirat).

 

To be continued…

[Limo, 19 September 2011]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s