IKHLAS ITU…

Adakah yang lebih sederhana, namun memiliki esensi luar biasa selain keikhlasan? Sebuah kata yang mudah dilafalkan, bahkan terkesan remeh-temeh, sehingga tak jarang seseorang luput merealisasikannya. Sejatinya, inilah ilmu yang (kalau boleh dikatakan) paling mendasar sekaligus paling penting adanya.

Jika ditilik dari segi bahasa, ikhlas berasal dari asal kata khalasa yang berarti bersih atau murni. Manakala disandingkan dengan kata niat, yang berarti tujuan, maka bersih yang dimaksud ialah bersih dari segala maksud atau motivasi lain kecuali kepada Allah SWT. Maka sudah seyogyanya apabila ada tujuan-tujuan lain selain mengharap ridho Allah SWT itu dihilangkan.

Allah SWT berfiman,

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [QS. 98: 5]

Keikhlasan merupakan ruh sekaligus kualitas dari segala aktivitas seseorang. Baik atau buruknya suatu perbuatan tentu akan kembali kepada niatnya. Apabila niatnya tidak ikhlas, maka perbuatan tersebut tidak ubahnya seperti kayu yang dibakar api, tidak memberi arti. Itulah sebabnya mengapa dalam setiap ibadah, baik yang mahdhoh maupun ghoiru mahdhoh, niat menjadi rukun pertama yang tidak boleh diacuhkan.

Rasulullah SAW bersabda,

Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niat… [HR. Muslim]

Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas dalam mencari keridhoan-Nya semata. [HR. Abu Daud dan Nasai]

Hal ini selaras dengan firman-Nya,

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. [QS.4: 125]

Kemilau cahaya keikhasan seseorang akan terpancar meskipun orang-orang tidak melihatnya. Baginya, bukan masalah orang melihat dirinya atau tidak, sebab yang menjadi tujuannya ialah ridho-Nya. Semua itu tidak membuatnya pusing memikirkan apa-apa yang bukan miliknya. Ia juga tidak kuatir apa-apa yang ada padanya hilang nantinya. Maka, orang-orang yang ikhlas (mukhlisin) tentunya tidak merasa bangga terhadap kebaikan-kebaikan dirinya. Ia pun tak merasa malu apabila dikoreksi atas kekurangan-kekurangan yang ia miliki.

Letak keikhlasan bukan semata di awal, di mana dilafalkannya niat sebelum melakukan suatu amal. Tetapi ia juga berada di tengah, saat melakukan amal tersebut. Juga berada di akhir, ketika selesai melakukannya. Artinya, seseorang yang ikhlas akan selalu menjaga hatinya dan segera menghilangkan tujuan-tujuan lain selain kepada Allah SWT, baik di awal, tengah, maupun akhir. Itulah mengapa Mukhlisin berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengungkit amal baiknya, apalagi menyebut-menyebut dirinya telah ikhlas. Ia berusaha melupakan kebaikan ia telah lakukan karena ia kuatir kualitas amalnya akan menjadi rendah manakala kebaikan tersebut sering kali diungkit-ungkit.

Keikhlasan memberi kekuatan bagi seseorang untuk beramal tanpa banyak mengalkulasi. Asalkan itu kebaikan dan kebenaran, maka tak ada lagi keraguan dalam beramal. Mukhlisin tidak akan memersoalkan keburukan orang lain, namun ia sibuk dengan kekurangan dirinya, dan juga memikirkan kebaikan apa yang belum ia kerjakan. Ada dorongan kuat di hati mereka untuk senantiasa memersembahkan yang terbaik di hadapan-Nya.

Amal tanpa keikhlasan, ibarat sebuah gelembung sabun. Terlihat namun tidak memiliki arti. Cepat atau lambat ia sirna dengan sendirinya. Inilah yang juga menyebabkan keringnya ruhiyah, hambarnya ukhuwah, dan kerap pula menghantarkan orang-orang pada perselisihan yang tak kunjung usai.

Dalam buku Nyala Satu Tumbuh Seribu (2008:13), ada sebuah kisah tentang seorang pegolf profesional. Suatu ketika, ia keluar dari sebuah klub golf setelah mengantongi sejumlah uang dan piala bergengsi di sana. Di tempat parkir, ia bertemu dengan seorang wanita yang menghampirinya dengan menangis. Wanita itu mengeluh padanya tentang anaknya yang sedang sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit. Karena tidak memiliki biaya, wanita itu meminta bantuan kepada pegolf tersebut agar mau menyumbangkan sebagian uang hadiah yang dimenanginya. Menurut wanita itu, karena tidak ada lagi biaya, tidak ada lagi obat yang dapat diberikan kepada anaknya. Pemain golf tersebut sangat tersentuh. Ia ingin menolong Ibu yang malang itu. Ia lalu memberikan semua uang hadiahnya untuk membiayai operasi guna menyembuhkan dan menyelamatkan sang bayi.

Beberapa hari kemudian, pegolf itu kembali ke lapangan golf. Ia menceritakan kejadian tersebut kepada teman-temannya di lapangan golf. Beberapa temannya berkomentar, “Wah! Anda tertipu oleh perempuan itu. Ini bukan yang pertama kalinya ia berbuat begitu. Kasihan, Anda, menjadi korbannya lagi. Mata pencaharian wanitaitu memang selalu menipu orang lain!”

Pegolf itu berkata, “Jadi tidak ada bayi yang sakit keras?”

Mereka menjawab, “Jelas tidak!”

Lalu pegolf itu berkata lagi, “Bagus! Lega hati saya karena ternyata anak wanita itu tidak ada yang sakit.”

Entah bagaimana pola pikir pegolf tersebut. Saat teman-temannya bilang wanita yang ia tolong adalah penipu, ia malah bersyukur bahwa tidak ada anak yang sakit, bukannya menyesal bahwa ia telah kehilangan semua uang hadiahnya itu. Namun, begitulah salah satu gambaran keikhlasan dari sekian banyak kisah hikmah yang ada.

Allah SWT berfirman,

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. [QS. 4: 145-146]

Dan juga firman-Nya,

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. 2: 262]

Tak ada hati yang tak retak. Artinya, berniat dan bersikap ikhlas memang tidak selalu mudah. Terkadang ditemui hambatan atau hal-hal yang merusak keikhlasan. Namun menjadi seorang Mukhlis bukanlah perkara yang mustahil. Asalkan terus menjadikan Allah SWT sebagai poros pergerakan, dan tak bosan melakukan muhasabah (intropeksi diri) terhadap kekurangan-kekurangan.

Allahua’alam…

[Limo, 9 Maret 2011]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s