ENGGAN MEMBINA KARENA TAKUT DOSA JARIYYAH

Sebenarnya tulisan ini lanjutan dari tulisan saya yang lalu, “Aneh… Kenapa (Masih) Enggan Membina?” yang juga saya cantumkan sebagai note di Facebook. Sesaat setelah tulisan itu diposting, ada teman yang bertanya di Facebook yang intinya seperti ini: Kalau jadi dosa jariyyah bagaimana?

Ya, inilah salah satu penyebab kegundahan para calon morobbi kala diminta untuk membina. Mereka merasa takut kurang kompeten dan salah dalam membina, yang akhirnya bukannya membuat orang lain jadi lebih baik, malah jadi buruk. Kalau sudah begitu, mereka berpikir akan dapat dosa jadiyyah, bukan pahala jariyyah! Ironisnya, pemikiran ini juga kadang menghantui para murobbi yang merasa telah gagal dan minder, sehingga tidak ingin membina lagi.

Dosa atau amal jariyyah itu ditentukan oleh niat. Kalau memang kita berniat menyesatkan orang ke dalam neraka, dan akhirnya orang itu sukses sesat, bangga sesat, dan mengamalkan kesesatannya, barulah itu dihitung jariyyah dosanya. Tapi ketika kita berniat membina (mengajak) kepada Allah, tapi hasilnya belum maksimal, itu adalah poin pembelajaran sebagai batu loncatan untuk menjadi lebih baik. Lagipula, adakah Allah memberi dosa atas kesalahan hamba-Nya yang disebabkan karena tidak sengaja/lupa/tidak tahu?

“Sesungguhnya Allah melampaui ketentuan bagiku dengan (memaafkan) umatku dalam kesalahan yang tidak disengaja, karena lupa, dan karena dipaksa melakukannya.” (HR. Ibnu Majah)

Sesat atau tidaknya orang itu masalah hidayah dari Allah. Seprofesional apa pun seorang murobbi dalam membina, tapi kalau para mentee-nya tidak diberi hidayah oleh-Nya, niscaya yang mereka akan sesat-sesat juga. Seperti paman Rasulullah, Abu Lahab, yang hingga akhir hayat tetap kafir. Sementara, hidayah itu bukan ditunggu, melainkan dicari. Kalau ada mentee yang ternyata tidak/kurang ingin menjadi lebih baik atau kurang mencari hidayah (mungkin saja karena tidak ikhlas), maka ilmu yang ia dapatkan dari murobbinya tidak akan dicerna dengan baik dan akhirnya tidak menjadi gizi iman yang dapat menyehatkan dirinya.

“Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR. Bukhari)

Tugas murobbi adalah berbuat maksimal, mencoba menjadi jembatan hidayah, sisanya biar Allah SWT yang menentukan. Lagipula, seorang murobbi itu manusia biasa, bukan dewa. lantas wajar apabila ada yang luput dari perhatiannya atau ada kesalahan yang ia perbuat.

Gagal/salah itu biasa, karena kita manusia yang tak sempurna (klasik!). Rosul pun pernah salah, bukan? Ya namanya juga hidup, pasti ada dinamika sukses/gagal. Atau lebih tepatnya bagaimana kita memandang kesuksesan dan kegagalan itu sendiri.

Kalau kata motivator, yang boleh ngutip kalimatnya Oliver Goldsmith, “kesuksesan kita bukannya karena tidak pernah jatuh, tetapi mampu bangkit kembali setiap kali kita jatuh.”

Ada juga yang bilang, “orang yang tidak pernah gagal dalam hidupnya hanyalah orang yang tidak pernah melakukan apa pun.”

Ingat, setan itu bermain pada perasangka, sehingga ia meniupkan rasa ragu-ragu, takut gagal, was-was, dan lain sebagainya, yang intinya untuk membuat kita jauh dari perbuatan baik. Dan jika saat kita benar-benar berhenti dari perbuatan baik itu (membina), maka sesungguhnya setan tengah berpesta pora merayakan kemenangannya lantaran telah berhasil “membungkam” satu orang guru peradaban di dunia ini.

Ibarat seorang anak SMU yang hendak membaca al-Qur’an di kelas, lantaran memang gemar membaca al-Qur’an, tapi tiba-tiba muncul perasaan takut dianggap riya. Alhasil ia tidak jadi membaca al-Qur’an. Rugi, kan?

Hematnya mungkin begini. Kalau seseorang yang telah dibina saja ada kemungkinan ia tetap berbuat dosa, apalagi jika tidak dibina?

Saat ini, di dunia ini, antara yang mengajak pada keburukan dan yang mengajak pada kebaikan itu lebih banyak yang mengajak pada keburukan. Belajar agama itu sedikit sekali porsinya, apalagi di Indonesia. Kurikulum sekolah memberi porsi belajar agama hanya dua jam (2×45 menit) dalam seminggu. Artinya dalam setahun pendidikan agama cuma diberi sebanyak tiga hari! sedangkan arus gowzul fikr (perang pemikiran) yang dilontarkan para musuh Islam begitu deras dan mudah ditemukan di mana-mana.

Kala begitu, sumber daya murobbi begitu sangat diperlukan dalam membuat thasawur (persepsi) Islami yang jelas dalam benak masyarakat dan membentuk syakhsiyah islamiyah (kepribadian yang Islami) sebagai cerminan keislamannya.

Terakhir, ayo terus semangat membina! Membina tidak perlu menjadi dewa. Yang penting maksimal usaha dan do’a. Selebihnya serahkan pada-Nya. ^_^

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” [QS. 2: 286]

“karena sesungguhnya pada kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya pada kesulitan itu ada kemudahan.” [QS. 94: 5-6]

Allahua’lam bishowab.

[Limo, 2 Oktober 2010, 00.41 WIB]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s