Surat Terbuka Untuk Flashdisk Tercinta

The Kertas Buram - Flash Disk (3)

Seperti biasa, kebingungan terbias di wajahku. Menyampaikan kabar bahwa otak ini terlalu bodoh untuk berfikir, bahkan sekadar menyusun kata-kata untuk memulai surat ini. Karena awalnya aku tak percaya kau akan dapat membacanya, berhubung mungkin saat ini kau tengah tenggelam pada kehampaan. Menyusuri lorong panjang kesunyian tanpa ujung. Juga tanpa cahaya.

Tapi biarlah surat ini tetap lahir. Sebagai tanda cinta yang belum sempat terungkap. Sebagai ukiran akhir pada jenjang kisah kehidupan yang indah. Dan bukankah perjumpaan kita juga dimulai dengan keindahan? Ya, kalau saja angin terlalu egois dan sombong, sudah pasti nafsu ini tak akan bereaksi lantaran kabar kau sedang diobral di Senayan tahun lalu tak hinggap di telingaku.

Kau pasti ingat, bagaimana ratusan manusia rela berdesakkan, berpeluh, dan menggadaikan waktunya berjam-jam hanya demi mendapatkanmu, flashdisk Vandisk 2 Gb seharga Rp 25.000,-, yang saat itu hanya berjumlah 200 unit. Dan aku, dengan senyum mengembang, keluar sebagai salah satu dari 200 orang terpilih itu.

The Kertas Buram - Flash DiskYa, mungkin itu sebabnya teman-temanku menjulukimu sebagai “flasdisk dua puluh lima ribu”. Pun begitu, rasa bangga tak sedikit pun hengkang dari hati, malah semakin kuat mengakar. Derajatmu kunaikkan beberapa level di atas MP3 Player Ixus 512 Mb yang lebih dulu menemaniku. Tak ada satu pun manusia yang boleh berlama-lama meminjammu. Karena kutahu, satu hari tanpamu telah cukup mampu mendamparkan hati ini ke lembah galau yang sepi.

Pernah suatu hari, kau raib tanpa kabar. Dan tahukah kau? Saat itu aku tak berhenti mencari, hingga akhirnya kutahu kau tertinggal di rumah sahabat yang siang tadi kukunjungi.

Keberadaanmu ibarat pondasi hati. Maka dari itu, tak akan kubiarkan kau hilang. Dan adalah wajar apabila di setiap langkahku ada kamu. Mulai dari kuliah, manggung, rapat, nge-net… ah, pokoknya semua ada kamu! Hingga akhirnya, tibalah saat itu, di mana terik pagi menghiburku yang benar-benar mendapatimu ’hilang’ dariku. Kau mati dalam materi yang mati.

Akal ini terus mencari jawaban atas apa yang terjadi. Namun satu hal yang kupahami, kau tak akan pernah kembali. Kau telah pergi jauh meninggalkan jasadmu yang hitam-putih. Menyisakan kalimat “USB Device Not Recognized” di layar kaca komputer. Terlebih ketika kau diperiksa, sebagian dari insan-insan intelek segera memvonis dengan tegas, “Udah ded, buang aja! Huahahaha…”.

Namun sebagian intelek yang lain lebih berbaik hati. Mereka memberi saran ini-itu. Namun tetap, kematian adalah wewenang Sang Azis yang tak dapat ditunda. Tak terkecuali flashdisk dua puluh lima ribu sepertimu.

Terakhir aku tertegun mengingat sesuatu, rasa sesal menyeruak karena telah membiarkanmu terjerat sentuhan hujan lebat di malam sebelum hari kematianmu. Lantaran hanya kutaruh di kantung celana yang tipis dan bukan anti air.

Sejak itulah, meski awalnya berat, aku harus ikhlas dan tetap bersyukur. Ikhlas untuk menjalani hidup tanpamu dan bersyukur bahwa masih ada MP3 Player 512 Mb yang masih setia mendampingiku. Walau dengan begitu, aku harus rajin menghemat kapasitas data, tapi tak apa, karena hal itu tidak berlangsung lama. Baru-baru ini, tepatnya dua hari lalu, aku berhasil memperoleh dia, penggantimu. Ya, meski pertemuan kami tak seindah pertemuan kita, namun cukup bisa menutup luka atas kepergianmu. Dia yang kumaksud adalah flashdisk Imation 8 Gb seharga Rp 50.000,- yang kudapat dari seorang sahabat. Aku pun senang. Semoga kau juga berbahagia atas kabar ini, itu pun jika kau bisa membaca surat ini.The Kertas Buram - Flash Disk (1)

Dan bagaimana pun surat ini tentu bermuara pada ucap maaf dan terima kasih. Maaf jika selama ini sering ku-remove tanpa proses safety eject. Maaf bila sering kutancap pada komputer bervirus, hingga kau tertular karenanya. Sampai maaf atas kecerobohanku yang mungkin telah membawamu pada kematian. Terima kasih atas baktimu selama ini yang tak pernah mengeluh atau protes padaku. Sebagai tanda cinta, kuistirahatkan kau dalam kotak putih kesayangan yang berisi benda-benda kenangan dari masa lalu.

Selamat jalan dalam meniti kehampaan dan menyusuri lorong panjang kesunyian tanpa ujung. Juga tanpa cahaya.

Dan perlu kau tahu, kadang aku masih berharap kau hidup kembali. Berpendar cahaya dalam asa: “This device can perform faster”.

[Limo, 30 Desember 2009]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s