Surat Terbuka Untuk Mushaf Pertama

The Kertas Buram - Mushaf Pertama

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Hm… entah harus dari mana kumulai surat ini. Namun yang pasti, andaikata kau membacanya, kuharap kau dalam keadaan baik-baik saja. Seperti dulu, saat sebelum kau menghilang tanpa kabar dariku. Ya, bagaimana pun ini salahku. Sifat pelupa yang kuderita tengah parah saat itu. Maafkan aku.

Mungkin kau berfikir, hal ini tak akan terjadi apabila aku mengajakmu kemana saja aku pergi. Namun maaf, saat itu aku tak bisa mengajakmu. Bukannya tak ingin. Tapi aku tak bisa. Tempat kotor seperti Toilet itu bukanlah tempat yang pantas untuk kau datangi. Kau terlalu suci. Maka dari itu aku tak bisa mengajakmu. Kumohon kau mengerti.

Ya, bagaimana pun ini salahku. Bisa saja hal ini tak terjadi jikalau aku langsung menemuimu kembali setelah keluar dari tempat itu. Namun maaf, entah apa yang ada di dalam otakku hingga bayangmu tak terlintas sedikit pun di benakku.

Beberapa saat kupikir kau telah bersamaku. Itu sebabnya aku berlalu tanpa ragu. Hingga akhirnya, entah berapa puluh menit kemudian, kusadari kau tak disampingku. Angin pun memberi kabar bahwa kau masih menungguku di dekat tempat tadi. Namun kenyataannya… kau raib ditelan waktu. Sempat kutanyakan keberadaanmu pada pesuruh yang lalu lalang di situ, tapi ia tak tahu.

Saat itu… hatiku rapuh.

Tahukah kau? Raibnya dirimu masih menyisa pilu di kalbuku.

Ah, aku jadi ingat saat pertama kita bertemu. Saat itu adalah hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Aku yang sedang menunggu waktu berbuka berjalan-jalan bersama teman-teman di pelataran masjid al-Hikmah. Langkah kami terhenti pada kerumunan dagangan buku Islami. Kuperhatikan kau tengah asyik berjemur di bawah matahari. Tak hentinya debu-debu nakal menindihmu dengan sengaja. Saat itu, entah bagaimana, ada yang mendorong hatiku hingga terjatuh pada kesucianmu. Kenyataan bahwa telah banyak tangan yang menjamahmu tak cukup kuat menghalangi niatku untuk memilikimu. Buktinya, Allah SWT tetap menakdirkanmu untukku. Mungkin perlu kau tahu, kudapatkan dirimu dengan hasil tabunganku sendiri! Maka bukanlah aneh apabila ada rasa bangga yang tersimpan di sudut hati.

Maka dari itu, hilangnya dirimu bukanlah hal yang mudah. Melupakanmu? Ah, jangan bercanda. Kau itu pertama bagiku! Kau tentu paham betul betapa berharganya hal pertama dalam hidupmu. Pun begitu dirimu di hatiku.

Rasanya sulit kupercaya kini kau tak lagi ada. Kuingat, tubuhmu penuh lipatan dan sesekali kudapati warnamu kian memudar. Tapi kesucianmu, masih tetap seperti dulu. Tak berkurang sedikit pun. Kau sangat sabar. Itu sebabnya aku begitu menyayangimu. Dengan sabar kau ajarkan aku tentang arti cinta Sang Maha Cinta. Dengan sabar pula kau membantuku menghapal cinta-Nya. Ah, banyaknya tanda di tubuhmu seolah berkisah tentang apa saja yang telah kita lakukan bersama. Meski tak jarang pula, kau merasa sendiri lantaran aku tak peduli. Pun begitu, tak ada sedikit pun protes keluar dari lisanmu. Ah, mungkin aku terlalu mengada-ada. Ya, sekali lagi itu salahku. Maafkan aku.

Benar, bagaimana pun itu semua hanya masa lalu. Sekarang, kutak tahu di mana dirimu. Kau hilang bagai debu tersapu. Tak menyisakan waktu untukku, barangkali sekadar  mengucap salam penuh haru.

Kuharap, kau kini berada di tangan orang yang tepat. Yaitu tangan seorang sholeh yang dengannya kau tak lagi merasa kesepian. Karena ia sering mengajakmu bercengkrama di mana dan kapan pun. Berjanjilah kau untuk menjaganya pula sebagaima ia menjagamu. Jadilah ladang amal baginya. Maka jika benar itu terjadi, aku ikhlas melepasmu.

Namun yang kutakutkan adalah apabila kau bersama orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan lebih buruk dariku. Ah, semoga saja hal itu tak benar-benar terjadi. Karena tak sampai hati jika aku harus membayangkannya.

Kita berpisah bukan berarti terpecah. Karena meski tak banyak, ada sebagian cahayamu bersemayam di otakku. Akan kujaga itu. Hingga hari berhentinya waktu, akan kucari pengganti dirimu.

Semoga setelah kau baca surat ini, kau dapat menyemai makna yang terjadi. Meski kuakui sekali lagi, semua ini salahku. Maafkan aku. Terima kasih atas kesediaanmu menjadi bagian dari hidupku.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

[Limo, 5 Desember 2009]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s