Tiga Kata Ajaib

Manusia adalah makhluk yang perasa. Tentu saja karena memiliki hati. Hal inilah yang menentukan damai atau tidaknya sebuah kehidupan. Terutama kehidupan sosial.

Mungkin kita pernah memiliki konflik dengan orang lain di dalam perjalanan hidup kita. Namun itu adalah wajar. Tak ada orang hidup tanpa masalah. yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita bisa selalu meminimalisir konflik dan mempertahankan hubungan kita kepada orang lain.

Maka dari itu, sesungguhnya ada tiga kata ajaib yang dapat melakukan hal itu. Berfungsi melancarkan, mempererat, dan menyatukan sebuah hubungan. Keajaiban ketiga kata ini begitu universal. Tidak terikat usia, jabatan, maupun logika. Semua berasal dari hati yang dewasa.

1. Maaf

Jika ada sebuah kata yang dapat menyatukan dua buah hati yang terpisah, maka pastilah kata itu adalah ‘maaf’. Sebuah kata biasa namun memiliki kekuatan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Dengan kata ini, sebuah luka pengkhianatan dapat terobati, permasalahan yang ada dapat teratasi, dan lubang di dalam hati pun dapat tertutupi.

Sudah seyogyanya orang salah meminta maaf. Anak SD pun tahu itu. Namun yang sering terjadi adalah lidah ini kelu bagai bisu. Kadang hati ini enggan bersatu. Entah karena gengsi atau malu. Tapi sadarkah sahabat? Rasa enggan dan malu tersebut tidaklah pada tempatnya.

Tidaklah benar apabila dikatakan bahwa orang yang meminta maaf adalah orang  yang kalah. Justru orang tersebut adalah orang yang menang. Menang melawan ego dalam diri. Menang karena berani. Berani karena ia insan sejati. Sebagai bukti pendewasaan hati.

Sahabat, sungguh mulia orang yang berani meminta maaf. Bahkan Rosulullah Salallahu ‘Alaihi Wasalam pun mengajarkan kita untuk tidak bermusuhan lebih dari tiga hari. Maka dari itu, jangan ragu dalam meminta maaf atas kesalahan! Tapi ada yang perlu kita perhatikan sahabat, keajaiban dari ‘maaf’ ini akan kian melemah apabila digunakan tidak pada tempatnya, yaitu selalu digunakan untuk menutupi kesalahan namun terus melakukan kesalahan yang sama tanpa adanya niatan memperbaiki keadaan. Hal ini tentu saja akan menghilangkan kepercayaan yang diberikan orang lain pada kita.

2. Tolong

Jika ‘maaf’ dapat menyatukan hati yang terpisah, maka lain halnya dengan ‘tolong’. ‘Tolong’ dapat berfungsi sebagai perekat, pengggugah, dan penyeimbang dari sebuah hubungan. Sehingga ada penyamaan kedudukan dan saling memberi penghormatan.

Kadang kita terlupa menggunakan kata ini saat hendak membutuhkan sebuah bantuan. Sebuah kalimat permintaan tanpa kata ini akan bersifat memerintah. Namun siapa sih yang sudi diperintah? Dengan adanya sebuah perintah, maka ada yang namanya perbedaan strata hubungan.

Orang yang memerintah (sengaja atau tidak sengaja) akan terkesan orang yang lebih tinggi kedudukannya dari pada yang diperintah. Meski hal ini tanpa kita sadari, hal ini sering terjadi.

Coba perhatikan dua kalimat berikut,

“Ambilin buku itu donk!”

“Tolong ambilin buku itu donk!”

Mungkin sekilas keduanya nampak sama, namun jelas keduanya memiliki aura yang berbeda. Kalimat pertama terkesan memerintah sehingga memungkinkan ketidakikhlasan terbesit dari orang yang dimintai tolong. Kemudian jika orang yang dimintai tolong tersebut menolak, dikhawatirkan adanya perasaan yang tidak enak atau sakit hati nantinya.

Namun lain halnya dengan kalimat kedua yang terkesan meminta. Orang yang dimintai tolong akan tergugah untuk membantu dengan ikhlas. Kalau pun ia menolak, tidak jadi masalah. Tidak ada sakit hati di sana.

Mungkin imbuhan kata ‘tolong’ pada kalimat permintaan terasa sangat sepele. Namun di sini letak keajaibannya. Hal sepele itulah yang dapat membuat dua hati tetap terjaga. Karena di dalamnya terkandung toleransi, harga diri, dan juga cinta.

Tapi ingat, sama halnya dengan ‘maaf’, keajaiban kata ‘tolong’ akan melemah jika terus digunakan tidak pada tempatnya, yaitu selalu meminta tolong tanpa ada usaha yang pasti dari dalam diri.

3. Terima Kasih

Apabila ‘maaf’ adalah penyatu, ‘tolong’ adalah perekat, maka pastilah ‘terima kasih’ adalah penguat. Waktu kita kecil, orang tua kita pasti mengajarkan untuk mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain.

Kata ajaib terakhir ini berfungsi untuk memberi apresiasi atau penghargaan atas apa yang diberikan orang lain pada kita. Karena sudah fitrah manusia untuk selalu dihargai, dihormati, dan diapresiasi apa yang mereka usahakan. Maka dari itu, berterima kasihlah ketika mendapatkan apa pun dan sekecil apa pun itu dan dari siapa pun. Selama itu masih dalam kebaikan tentunya. Ucapan terima kasih adalah cerminan orang yang bersyukur. Hanya orang sombonglah yang tidak mau berterima kasih.

Berbeda dengan kata ajaib sebelumnya, kata ini memiliki keajaiban yang tidak pernah melemah. Karena semakin sering digunakan, maka semakin kuat pula hubungan hati yang terjadi.

Sumer: Ingatan bertahun-tahun saat mendengar siaran radio.

[Limo-Ciputat, 12 November 2009]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s