Kasih Itu, Kasih Ibu

Tak terasa ubin masjid al-Ikhlas begitu dingin di hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Kepalaku terasa sangat berat. Entah hari ini sudah berapa kali aku bersin. Tenggorokan pun meradang. Nafasku juga sudah terasa cukup hangat. Kini tinggal menunggu lendir hidung mulai mencair, lengkap sudah tanda aku masuk angin.

Hari ini, motorku menelusuri kota Depok. Sepulang dari undangan iftor jama’I di kediaman Ust.Ghulam, aku berinisiatif mencari jalan tembusan dari Margonda ke Limo, daerah rumahku berada. Kebetulan kami tinggal di kota yang sama. Akhirnya, kutemukan jalan yang kumaksud.

Awalnya hanya ingin tahu jalan, lalu segera kembali ke al-Ikhlas, melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda. Namun, sebagian hati yang lain menentang, berontak ingin makan masakan orang tua. Jelas saja, memang karena sudah beberapa hari aku tidak tinggal di rumah.

“Aduh, le. Aku khawatir kamu masuk angin di sana.” Sapa Mamaku (sebutanku pada ibu) setibanya aku di rumah, lalu mencium punggung tangannya. Aku hanya tersenyum,  bahagia diperhatikan Mama.

Kubalik memperhatikannya, keadaannya tak seperti biasa. Ia tampak tidak sehat. Beberapa kali ia terbatuk-batuk. Lalu  kembali berbaring sambil nonton sinetron. Sedih aku jika melihatnya. Ia mengkhawatirkanku, tapi ia sendiri sedang sakit, masuk angin.

Kuposisikan diriku. Berbaring sejenak. Sedetik, sebelum kesadaranku menghilang, kudengar Mama minta dikeroki kakakku.  Enam puluh menit berlalu, kesadaranku kembali. Jam menunjukkan pukul 23.00. WIB. Sudah malam sekali, maka kuputuskan untuk kembali ke al-Ikhlas. Awalnya rencana kepergianku ditentang oleh Bapak (sebutanku pada ayah) karena sudah larut malam, namun Mama membelaku, dengan alasan kalau ibadah jangan dilarang-larang.

“kamu bawa remason (balsem panas) ya, le.” Ujar Mama ketika kucium punggung tangannya saat berpamitan.

“gak usah, Ma. Aku gak apa-apa kok.” Jawabku, meyakinkan. Biarlah remason itu berada di rumah ini, agar dapat digunakan Mama menjaga kondisinya.

Tak perlu waktu lama untuk aku kembali ke jalanan. Melaju motor bututku kembali menelusuri malam. Sesekali hati ini terenyuh, kala mengingat perhatian dari Mama barusan.

Begitulah seorang ibu. Tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Bukti sejati dari sebuah cinta. Cinta tulus seorang ibu. Bagai lilin yang menyinari sekitarnya meski ia sendiri pun terbakar. Oh, Mama, andai kau tahu betapa aku mencintaimu.

Ya Allah, lindungilah Mama. Aku sangat sayang padanya.

[Pesanggrahan UIN Jakarta, 15 september 2009, 11.42 WIB]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s