Teman Sejati???

Teman sejati, sosok yang sangat dinanti oleh setiap orang di Bumi. Di tulisan ini, aku tidak akan menceritakan tentang teman sejatiku atau pun temen sejati temenku. Melainkan aku hanya ingin menyampaikan sepenggal ulasan pemikiran yang terabadikan di bagian buku catatan pelajaran Biologi SMA kelas 3-ku. Di mana saat itu, ada seorang akhwat teman sekelas menanyakan padaku, “menurut nt, teman sejati itu yang bagaimana?”. Aneh memang, kenapa dia tiba-tiba bertanya demikian. Tapi hal itu memacu daya fikirku untuk memberikan jawaban terbaik. Disebabkan keterbatasan waktu untuk menjawab, karena saat itu kebetulan sudah ada guru yang masuk kelas untuk mengajar, jadi terpaksa aku coba jawab di bagian belakang buku tersebut. Dengan sedikit bingung, aku menulis:

***

Teman sejati adlh menurut ane si ye… hmm… begini ni… yaitu sseorang yg begitu mengenal kita sehingga memiliki ikatan hati yg kuat yg melahirkan 3 tiang persahabatan; kepercayaan, pengertian, dan kejujuran. Di mana ketiganya saling berkesinambungan. Seorang teman sejati itu bisa selalu setia trhadap apa pun kondisi kit. Baik senang atau susah. Ikut senang klo qt senang, ikut sedih klo qt sedih dan juga menghidur qt. Teman sejati gak akan membiarkan qt ntk terjerumus dlm lingkar kemaksiatan bila kita lupa. Dia akan mengingatkan kita. Hhm…sbenarnya tergantung teman sejati apa, kn ada 2: yg tman sjati maksiat & tman sjati kebaikan. Temn sjati maksiat tentunya akan mengingatkan kita bila kita lupa melakukan maksiat. Begitu pula sebaliknya. Makanya… penting banget pilih-pilih teman. Ane prnah baca hadist, tp ane lupa tepatnya, sekiranya bgini: “seseorang akan mengikuti agama temannya, oleh karnanya pilih-pilihlah untuk menjadi temanmu…” ya kaya gitu klo gak salah. Seseorang pasti pnya teman sejati, seorang teman yg sgt cocok m qt. Tapi masalahnya qt gak tahu di mana & kapan akn ktmu dia. Ya makanya dicari gitu. Oya, tentunya tmn sjati maksiat itu bukan teman sejati lho! Itu cuma setan yg berwujud manusia. Makanya tentukan tujuan (surga), siapkan bekal (iman & ilmu), punya peta (al-Qur’an & Hadits), trus siapkan bekal (takwa). InsyaAllah qt bisa selamat menuju tujuan qt itu… dan bisa dpt tmn sjati yg satu visi & misi seperti itu sungguh anugrah yg perlu disyukuri.

***

Kukirim tulisan yang hampir satu halaman itu kepada akhwat tersebut. Penasaran, kira-kira ia sependapat denganku tidak ya? Kulihat ia mulai menulis di bukuku. Selesai pelajaran, tibalah waktu istirahat kedua yang tidak lain adalah waktu sholat Dzuhur. Saat itulah, aku dapat membaca tulisannya di buku yang telah ia kembalikan itu:

***

Teman sejati itu…
Klo menurut ana;
Seorang teman yang selalu menemani kehidupan qt baik dlm keadaan apapun sampai tiba nanti qt berpulang/kembali pada Sang Khalik.
Karena hakikatnya (sejati) berarti bukan di dunia aja, tapi juga saat menuju kehidupan akhirat ‘nanti’.
Terkadang kita gak menyadari, teman sejati itu di mana?
(padahal dia selalu ada menemani stiap apa yang kita perbuat)
Mungkin… gambaran seseorang tertuju pada ‘seseorang’.
Tapi coba bayangkan… apakah jika qt tiba saatnya (kembali kepada Allah), seseorang akan selalu setia menemani kehidupan akhirat itu?! pastinya seseorang itu pun akan pergi meninggalkan qt sampai tempat
pens

***

Di akhir, tulisannya seakan terpotong. Buatku bingung apa yang ia maksud. Menyadari kebingunganku, ia bertanya, “ngerti gak apa yang ana maksud?”. Aku hanya menggeleng. Ia melanjutkan, “teman sejati itu adalah amal.”

Pelajaran berharga di waktu siang kembali kudapatkan. Kali ini tentang teman sejati dari seorang ukhti. Walau masih agak bingung, apakah aku harus menerima apa yang ia utaran terkait teman sejati barusan, aku teringat akan sesuatu, bahwa nanti jika kita akan dikubur, hanya amal yang akan menemani kita. Amal tersebut akan berwujud indah manakala amalan kebaikan kita lebih banyak dari keburukan. Begitu pula sebaliknya. Dan amal tersebutlah yang akan menemani kita di dalam kubur tersebut. Allahu’alam.

Definisi teman sejati sungguh sangat luas. Tergantung dari mana kita menyorotnya. Yang terpenting, janganlah kita paksakan ‘definisi teman sejati’ yang kita miliki, tetapi akan lebih bijak jikalau kita mengambil benang merah kebaikan dari definisi yang beredar. Agar kita dapat saling mengambil hikmah dari definisi-definisi tersebut, sehingga diharapkan menjadikan kita pribadi yang lebih bijaksana dalam bersikap serta berfikir. Amin.

Allahu’alam.

[Limo, 29 Agustus 2009]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s