Cerdasi Hidup Dengan Menunggu

Menunggu merupakan salah satu aktivitas yang paling dibenci manusia. Karena dianggap membuang-buang waktu. Padahal tanpa kita sadari, waktu yang kita miliki adalah menunggu. Hidup kita adalah menunggu! Menunggu waktu istirahat sekolah, menunggu pengumuman beasiswa, menunggu bus kota datang, menunggu antean beli tiket, menunggu dipanggil dokter di rumah sakit, menunggu keinginannya terwujud, menunggu pagi, menunggu malam, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, aktivitas yang sering kita lakukan adalah aktivitas yang sering kita benci!

Menunggu adalah aktifitas yang luar biasa. Bias dibilang, hidup kita adalah sebuah menunggu. Karena setiap kita melaksanakan sesuatu, itu berarti kita menunggu aktifitas selanjutnya. Bahkan saat anda membaca tulisan ini, anda sedang mengisi waktu senggang anda. Itu adalah menunggu! Menunggu waktu habis. Tanpa kita sadari, menunggu sudah mendarah daging bagi kita. Coba bayangkan, dalam keseluruhan hidup kita, kita sebenarnya menunggu kematian kita! Menunggu kembali kepada Sang Pencipta. Jadi jika kita beranggapan menunggu itu membosankan, maka sama saja kita berkata hidup kita membosankan. Perlu digaris bawahi, yang membosankan bukanlah hidupnya, melainkan pribadi pelaku kehidupan tersebutlah yang membosankan.

Dengan menunggu, manusia memiliki peluang menemukan karakter dasar dirinya untuk menjadi pribadi yang matang. Namun sayangnya, manusia lebih cenderung kepada hal-hal yang bersifat praktis dengan alasan keterbatasan waktu. Padahal keterbatasan waktu tergantung dari berapa banyak kita meluangkan waktu. Allah berfirman, “…Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. 17:11).

Dewasa ini, seiring perkembangan jaman, segala sesuatu berlangsung lebih cepat (praktis) daripada jaman sebelumnya. Sekarang perjalanan dari Jakarta ke Arab hanya memerlukan waktu sekian jam saja, tidak seperti tahun jadul yang perjalanannya mungkin sampai berhari-hari lamanya. Namun tidak semua yang cepat itu baik. Rumah yang dibuat secara terburu-buru pastilah tidak akan menjadi kokoh. Makanan yang dimakan belum matang pun demikian, tidak aman untuk dikonsumsi. Sebuah rumah tangga pun dinilai mencapai tingkat keharmonisan setelah bertahun-tahun lamanya. Karena hal itu butuh proses. Proses itu juga menunggu. Menunggu hasil dari sebuah proses.

Kebencian terhadap aktivitas ini disebabkan oleh rasa bosan yang ditimbulkan dari tidak adanya kesadaran akan pentingnya pemanfaatan waktu. Sehingga banyak orang yang merugi atas waktunya. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103 : 1-3)

Sekian detik yang telah terlewati tidak akan pernah kembali. Oleh karena itu, hanya orang yang menghargai waktu dan berbuat baiklah yang akan mencapai kemenangan dalam menunggu. Suka duka saat menunggu, nikmatilah! Isilah dengan upaya-upaya yang bermanfaat, yaitu senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat baik kepada manusia. InsyaAllah kita akan menjadi pribadi yang lebih matang dalam bersikap. Cerdasi hidup dengan menunggu.

Selamat menunggu.

(ditulis pertama kali di Llimo dan diselesaikan di Fatmawati, 30 Agustus 2009)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s