Pertolongan Allah Itu Pasti Ada

Assalamu’alaikum.
Kemarin (tanggal 15-7-09) saya melihat-dengar ceramah Ust. Yusuf Mansyur di Ctv jam 20.00 WIB. Pada ceramah tersebut, Ust. Yusuf Mansyur menceritakan sebuah kisah yang sungguh bagus sekali. Hal ini menggugah tangan saya untuk menceritakannya kembali pada tulisan ini. Semoga tidak mengurangi ‘nilai’ yang disampaikan sebelumnya.

**************************************************

Alkisah terdapat sebuah keluarga yang hanya tinggal seorang anak dan ibu. Ayahnya telah lama meninggal. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, sang ibu bekerja sebagai tukang jahit. Penghasilannya sebulan tak cukup banyak. Pesanan jahitan pun tak selalu ada.
Pada suatu siang, sang Ibu tampak gelisah menunggu anaknya pulang. Anaknya kini sedang melihat hasil pengumuman tes masuk perguruan tinggi negeri. Diterima atau ditolaknya si anak menjadi masalah bagi sang Ibu. Jika anaknya diterima, ia sedih karena tidak punya uang untuk membiayainya kuliah. Namun jika anaknya tidak diterima, ia sedih karena anaknya tidak bisa kuliah. Hal yang sama juga dialami si anak. Pengumuman kelulusannya rupanya menjadi beban pikirannya juga. Tak lama berselang, si anak pun pulang. Ia tahu, jika ia mengaku lulus, ia akan membuat ibunya sedih. Namun jika ia bilang tidak lulus, ia berarti berbohong kepada orang yang sangat ia sayangi itu. Maka ia putuskan untuk diam.

“Assalamu’alaikum.” Salam si anak ketika masuk rumah. Tak lupa senyum ia lontarkan kepada sang Ibu.

“Wa’alaikumussalam. Gimana nak, kamu lulus?” tanya sang Ibu.

Merasa ditanya, maka si anak mengatakan yang sebenarnya. “iya bu, alhamdulillah saya lulus.”

Raut wajah sang Ibu pun berubah sedih. Berbagai persoalan bercampur menjadi satu dalam benak sang Ibu. Si anak menyadari hal itu dan berkata,

“Sudah bu, jangan sedih. Saya tidak kuliah dulu juga tidak apa-apa kok. Lagi pula tidak kuliah juga tidak masuk neraka kok.”

Sang ibu bangga. Si anak pengertian sekali. Ditatapnya lekat-lekat anaknya tercinta itu.

“Kamu sudah sholat nak?”

“Belum. Saya sholat dulu ya bu.” Lantas si anak pun meninggalkan sang Ibu.

Sambil menunggu anaknya sholat, sang Ibu mengambil kertas dan alat tulis. Ia tulis nama-nama yang berpotensi memberinya piutang (pinjaman uang). Bu Aska, Bu Ulfa, dan Bu Ghozali tercantum di kertas tersebut. Sang Ibu mencoba menghubungi mereka lewat telepon.

“Assalamu’alaikum…” sapa sang Ibu di gagang telepon.

“Wa’alaikumussalam. Dengan siapa ya?” tanya Bu Aska.

“Dari Bu Yusuf, Bu.”

“Oh, mau pinjam uang lagi ya? Maaf, tidak bisa.” Tut… tut… tut… telepon terputus.

Usaha Bu Yusuf yang pertama gagal. Namun ia tidak menyerah. Ia coba hubungi Bu Ulfa.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam. Maaf ini dengan siapa ya?” tanya orang di balik sana. Suaranya tidak seperti Bu Ulfa.

“Dengan Bu Yusuf. Maaf, Bu Ulfanya ada?”

“Oh, cari Nyonya Ulfa. Iya ada tuh lagi di kamar. Sebentar saya panggilkan ya.” Ujar Khadimat (pembantu) itu lalu teriak memanggil Bu Ulfa. “Bu…! Ada yang nyariin ibu di telepon!”

“Siapa?” tanya Bu Ulfa dengan suara tak kalah dengan khadimatnya.

“Bu Yusuf.”

“Oh, dia. Pasti mau ngutang lagi. bilang aja saya gak ada di rumah ya!”

Tanpa mereka sadari, dialog mereka terdengar oleh bu Yusuf. Merasa tak enak hati, bu Yusuf segera menutup teleponnya.

Begitulah apabila kita meminta selain kepada Allah. Yang ada hanyalah perhitungan duniawi. Saat kita minta tolong sekali, mungkin masih bisa. Namun belum tentu untuk yang kedua kali atau seterunya. Berbeda dengan Allah Yang Maha Pemberi. Memberikan rezeki-Nya kepada segala mahkluk-mahkluknya yang ada di langit dan di bumi [QS. 2:255]. Maka sudah sepatutnyalah kita berserah kepada Yang Maha Pemberi, yaitu Allah SWT.

Menjelang malam, sang Ibu berkata kepada anaknya. “Nak, nanti malam kita bangun ya.”

Si anak mengerti apa yang dimaksud sang Ibu. Pendidikan agama yang diberikan keluarganya sejak kecil membuat si anak tumbuh menjadi Ikhwan yang sholeh.

Malam pun tiba. Disepertiga malam terakhir mereka bangun. Si anak menjadi iman di sholat tahajjud tersebut. Pada kesempatan tersebut sang Ibu menangis mendengar lantunan ayat suci al-Qur’an anaknya yang membacakan surat al-Kahfi ayat 110. Simbul semangat baru pada jiwa sang Ibu. Ia tidak boleh berputus asa. Ia harus bersemangat mencari rezeki untuk menguliahkan anaknya.

Ketika berdoa, anaknya mengangkat kedua tangannya. Sang ibu juga demikian. Maka tersingkaplah tangannya dan terlihatlah gelang emas yang menggelayut di tangannya.

“Rupanya ini yang menyebabkan saya sulit dapat uang.” Sang ibu melepas gelangnya dan menaruhnya di atas sajadahnya. Ia pun berdoa.

“Ya Allah. Gelang ini jika aku jual tidak akan cukup untuk membiayai kuliah anakku. Namun demi-Mu ya Allah, saat fajar terbit nanti, akan aku jual gelang ini untuk membantu orang lain yang lebih membutuhkan.”

Subhanallah. Di saat ia sendiri masih sulit untuk membiayai anaknya kuliah, ia masih sempat memikirkan bagaimana membantu orang lain. Pagi pun datang dengan ditandai adzan subuh.

Setelah sang Ibu mensedekahkan gelangnya, ia kembali mencoba mencari hutang kepada teman-temannya. Teringat kemarin tinggal Bu Ghozali yang belum sempat ia telepon. Namun kali ini ia datang langsung ke rumah Bu Ghozali.

“Assalamu’alaikum” salam Bu Yusuf setibanya di rumah Bu Ghozali.

“Wa’alaikumussalam. Eh, ada Bu Yusuf. Kebetulan…” sahut Bu Ghozali menyambut Bu Yusuf di depan rumahnya dengan ramah.

“Kebetulan apa Bu?”

“Kebetulan. Saya sebenernya mau datang ke rumah Bu Yusuf. Saya mau minjem uang sama Bu Yusuf. Itu juga kalau Ibu tidak keberatan.“

Belum mengutarakan maksud berhutang, malah ada yang mau berhutang padanya. Begitulah jika kita meminta tolong kepada manusia. Kita harus sadar, setiap manusia butuh pertolongan. Bagaimana bisa kita meminta pertolongan kepada yang sama-sama butuh pertolongan? Hanya Allahlah Yang Maha Penolong setiap hamba-hamba-Nya yang bertakwa. [QS. 41:31]

Hari itu terlewati dengan ikhtiar dan doa semaksimal mungkin dari sang Ibu dan si anak. Sang Ibu, setiap ingat bahwa yang ia lakukan ini adalah untuk anaknya kuliah, ia kembali bersemangat. Tak lupa setiap doa sehabis sholat ia selipkan kebutuhan-kebutuhan anaknya. Sholat Dhuha pun tidak terlewat.

Selepas sholat Dzuhur, sang ibu kembali teringat teman lamanya, Bu Rafka namanya. Sekarang ini Bu Rafka sudah sukses. Bu Yusuf berharap dapat meminjam uang padanya. Setelah mencari-cari agak lama, akhirnya ditemukannya juga nomor telepon Bu Rafka.

“Assalamu’akaikum. Bu Rafka?” salam sang Ibu.

“Wa’alaikumussalam. Maaf Ibu, Ibu kenapa? Banyak pikiran ya? Ini bukan nomor Bu Rafka. Saya Bu Fatimah.” sahut orang di seberang sana yang tak bukan adalah Bu Fatimah, seorang Ustadzah yang biasa memberikan kajian di sekitar wilayahnya. Rumahnya berada di depan sekolah anaknya.

“Oh, tapi nomornya…”

“Bukan ibu. Mungkin Ibu salah pencet nomor.”

“Oh, ya sudah. Terima kasih ya Bu. Maaf sebelumnya jika mengganggu.” Ujar sang Ibu hendak mengakhiri pembicaraan.

“Tunggu dulu Ibu. Memang sebenarnya Ibu ada apa? Jika Ibu punya masalah, ceritakanlah, siapa tahu saya bisa bantu. Allah telah mentakdirkan kita untuk berkomunikasi lewat salah sambung ini. Pasti ada hikmahnya Bu.” kata Bu Fatimah dengan sedikit tausiyahnya. Seakan mengerti keadaan sang Ibu, Bu Fatimah menawarkan bantuan.

“Iya bu. Saya butuh uang untuk kuliah anak.” Jawab Bu Yusuf jujur.

“Berapa yang Ibu butuhkan?”

“Rp 5 juta,-”

“O, begitu. Nanti sore Ibu datang saja ke rumah saya ya.”

“Ada duitnya Bu?”

“Tidak sih. Tapi saya ingin mengundang Ibu aja.” Rupanya Bu Fatimah tidak punya uang juga.

Alhasil, hari itu pun belum membuahkan hasil. Sang Ibu belum mendapatkan uang untuk kuliah si anak. Sisa-sisa waktu terlewati dengan aktivitas yang sama. Di sepertiga malam mereka kembali bangun. Mendirikan sholat tahajjud bersama. Hingga beberapa puluh menit sebelum adzan subuh, si anak hendak ke masjid meninggalkan ibunya yang sedang baca al-Qur’an saat itu.

Namun sebelum ia membuka pintu rumahnya, sudah ada yang mengetuk.

Siapa ya yang subuh-subuh datang bertamu? Tanya si anak dalam hati.

Ia pun segera membukakan pintunya. Ternyata didapati pamannya yang dari Cirebon.

“Assalamu’alaikum.” Ujar paman.

“Wa’alaikumussalam. Wah, dari mana paman?” tanya si anak.

“Dari Cirebon. Hendak ke Jakarta, ada urusan.”

“lho, memang paman berangkat dari kapan? Kok subuh-subuh sampainya? Kan Jakarta-Cirebon tidak jauh.”

“Sebenarnya paman berangkat dari jam 4 sore. Namun dalam perjalanan ke Jakarta, mobil yang paman naiki mogok dua kali. Jadinya paman telat sampai di Jakarta. Berhubung paman lewat daerah rumah kamu. Jadi sekalian mampir. Ibu kamu mana? Gak ada masalah apa-apa kan?”

Si anak yang merupakan Ikhwan sejati tidak mau mengungkapkan masalahnya kepada pamannya. Ia tidak ingin dikasihani. Ia yakin pasti Allah akan membantunya tanpa harus memelas kepada manusia. Cukuplah baginya memelas kepada Allah saja.

“Ibu ada di kamar paman. Tidak. Alhamdulillah tidak ada masalah apa-apa. Oia, paman mau minum apa?”

“Teh ada?”

“Tidak ada paman, sedang kosong.”

“Kopi saja deh.”

“Maaf paman, kopi juga tidak ada.”

“Lho, kamu ini bagaimana, nawarin minum mau apa, tapi gak ada apa-apa. Ya sudah air putih saja. Pasti ada kan?”

“Baik paman. Tunggu sebentar.” Si anak segera berlalu menuju ke dapur. Merasa tidak enak hanya memberikan air putih. Si anak memberikan pijatan kepada pamannya, sebagai servis tuan rumah kepada tamunya. Saat proses pemijatan. Terjadi sebuah dialog.

“Wah wah… kamu ini sudah besar ya ternyata. Paman baru sadar sekarang kamu sudah tinggi sekali. Kelas berapa kamu?” tanya paman.

“Saya sudah lulus paman.”

“O, begitu. Sekarang kamu kuliah di mana?”

Seketika itu pun tangan-tangan yang tadinya memijit berhenti. Sang paman paham. Paham akan kondisi keluarga kemenakannya itu. Setelah ayahnya meninggal, tidak ada lagi penghasilan lebih. Ibunya yang menjadi tukang jahit tentu tidak sanggup memenuhi kebutuhannya untuk kuliah. Sang paman merasa bersalah, karena selama ini ia kurang memperhatikan kemenakannya itu. Ia sadar, Allah membuatnya terlambat ke Jakarta dengan acara mobil mogok dua kali dan juga melangkahkan kakinya untuk mampir ke rumah kemenakannya ini pastilah ada himahnya.

“Maaf ya nak. Kamu tidak punya uang untuk kuliah ya?”

Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan kepala si anak.

“Sudah tenang saja. Sekarang kamu pijat paman lagi ya…”

Tangan-tangan yang tadi terdiam mulai kembali bergerak memijat pundak pamannya. Tak lama berselang, paman melanjutkan dialognya.

“Ibu kamu memang tidak punya duit. Tapi kan ada paman. Nanti biar kebutuhan kuliah kamu paman yang tanggung. Tidak hanya kebutuhan kuliah, tapi juga kebutuhan sehari-hari juga biar paman tanggung. Biar nanti paman biacarakan pada ibumu. Maafkan paman ya nak, selama ini kurang perhatian sama kamu.”

Kabar gembira itu masih belum diketahui sang Ibu. Namun sudah jelas masalah keuangan mereka telah teratasi. Air mata si anak beranak sungai. Beribu-ribu lantunan dzikir dan syukur keluar dari bibirnya.

Adzan subuh pun berkumandang.

**************************************************

Ikhwati fillah, sering kali tanpa disadari, kita melewati kesulitan dengan meminta bantuan pada orang lain. Padahal sebelumnya kita belum meminta pertolongan pada Allah. Atau pun di tengah-tengah usaha dan doa, karena dirasa kemudahan tak kunjung datang, lantas kita berputus asa serta futur akan nikmat yang Allah berikan. Padahal bisa jadi Allah sedang menguji seberapa kita sungguh-sungguh dalam meminta.

Kesulitan adalah ciri dari kehidupan. Namun bukan berarti kehidupan adalah kesulitan. Kesulitan adalah salah satu bumbu penyedap kehidupan. Namun sayang dewasa ini, banyak orang yang terpaku dan terjerembab pada bumbu penyedap yang satu ini. Padahal jika kita melihat dengan bumbu-bumbu yang lain dan mengaitkannya satu sama lain, InsyaAllah kita akan mendapat sebuah hasil yang luar biasa, yaitu hikmah.

Seperti kisah di atas, mereka tidak berhenti berdoa dan berikhtiar. Alhasil Allah memberi kemudahan bagi mereka. Benarlah janji Allah dalam al-Qur’an:

“Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” [QS. 3:150]

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari segala kejadian di sekitar kita dan kita dapat melewati segala kejadian yang menimpa kita dengan sifat terbaik kita. Amin.

Semoga bermanfat.
Jazakumullah.

[deddy_ds, 16 Juli 2009]

Advertisements

5 thoughts on “Pertolongan Allah Itu Pasti Ada

  1. Assalamu ‘Alaikum

    Subhanallah,
    Saya membaca posting ini setelah 2 tahun dipost oleh penulis, saya sperti diingatkan kalau selama ini sering meminta pertolongan kepada orang lain dan bukan ke Allah, dengan membaca posting ini Allah seperti mengingatkan saya untuk jangan pernah lelah untuk meminta kepada Allah. apalagi disaat sekarang sedang ada masalah
    Thanks for your great post.

    Wassalam,
    Arief

  2. Assalamualaikum Wr.Wb

    Terima kasih telah mengingatkan,… mungkin selama ini saya sudah jauh dengan Allah,….
    2 thumbs for this posting.

    wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s