Prinsip Pernikahan

pernikahanPernikahan merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Berhasil atau tidaknya sebuah percintaan terlihat dari pernikahannya. Sedang berhasil atau tidaknya sebuah pernikahan dapat dilihat dari manajemennya. Tanpa adanya manajemen atau komitmen yang jelas, maka pernikahan memiliki arah yang tidak jelas. Bahkan bisa sering terjadi pertengkaran akibat hal-hal sepele yang sebelumnya tidak dibicarakan. Proses mengenal pasangan memang sangat penting dalam hal ini. Dan cara efektif mengenal pasangan adalah dengan cara menerapkan komunikasi yang efektif. Komunikasi efektif dapat diterapkan sebagai prinsip sebuah pernikahan.
Menurut saya, ada empat prinsip penting yang harus diperhatikan dalam pernikahan, yaitu:

Kejujuran
Komunikasi efektif salah satunya adalah melalui kejujuran. Rasulullah pun menerangkannya dalam sebuah hadits:

“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong).” [HR. Bukhari]

Nah, jadi kejujuran itu penting kan? Karena tanpa kejujuran, tidak akan ada keterbukaan. Tanpa keterbukaan, maka kita tidak akan bisa menikmati lezatnya sebuah pernikahan. Namun kejujuran dalam hal ini adalah dalam konteks yang positif, yaitu untuk mempersatukan. Terkadang ada saatnya kita diperbolehkan untuk berbohong, untuk menyenangkan pasangan, atau pun menghindari perpecahan. Seperti contoh, masakan istri ternyata tidak seenak masakan koki di warteg, maka janganlah kita jujur, “istriku, masakanmu tidak enak.” Meski kita mengatakannya dengan senyum yang manis sekali pun, pastilah sang istri akan sakit hatinya.

“Rasulullah membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangkan mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa, dan pembicaraan suami kepada istrinya.*” [HR. Ahmad]

*Penjelasan:
Bila dikhawatirkan ucapan suami yang benar dapat berakibat buruk, maka suami boleh berdusta kepada isteri untuk memelihara kerukunan.

Dalam riwayat lain Rosulullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah menyukai dusta yang bertujuan untuk memperbaiki dan mendamaikan (merukunkan), dan Allah membenci kebenaran (kejujuran) yang mengakibatkan kerusakan.” [HR. Ibnu Babawih]

Kepercayaan
Bila sesama pasangan dapat berlaku jujur, niscaya pondasi pernikahan akan kuat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada alasan untuk tidak memberinya kepercayaan. Kita harus yakin bahwa pasangan kita akan senantiasa menjaga kesucian pernikahan, begitu pula dengan kita. Jika kepercayaan sudah menjadi komitmen dalam sebuah pernikahan, niscaya tidak akan mudah untuk diadu domba dari pihak lain. Kepercayaan adalah amanah, oleh sebab itu jagalah dengan sebaik-baiknya.

Pengertian
“Ia cantik karena kita cinta, bukan kita cinta karena ia cantik.”
Perlu kita ingat, bahwa kita menikahi manusia yang tidak sempurna. Pasti terdapat kekurangan dan kelebihan. Namun semua itu tidak menjadi masalah ketika kita bisa mengisi segala kekurangannya dengan kelebihan kita. Memaafkan kesalahan-kesalahan yang timbul dari kekurangannya. Sebelum kita mengeluh tentang kekurangan-kekurangannya, terlebih dahulu ingatlah kelebihannya. Sebelum kita mengeluh terhadap pernikahan, terlebih dahulu ingatlah bahwa masih banyak orang yang sulit untuk menikah. Bersyukurlah yang mampu menikah. Pahamilah pasangan kita.

Tidak ada manusia yang hidup tanpa kelebihan. Begitu pula pasangan kita. Ingatlah terus kelebihannya, dan lupakanlah kekurangannya. Apabila ada orang yang mengatakan tidak punya kelebihan, ia bukannya tidak punya kelebihan, tapi ia hanya belum sadar apa kelebihannya. Dengan kata lain, belum mengenal diri sendiri. Oleh sebab itu, alangkah bijaknya sebelum kita mengenal pasangan kita, terlebih dulu kita sudah mengenal siapa diri kita.

Bijaksanalah dalam menyikapi kekurangan pasangan kita. karena sesungguhnya hanya orang dewasalah yang dapat bijaksana. Dan hanya orang bijaksanalah yang dapat menyikapi segala persoalan dengan sikap terbaik, bukan dengan emosi dan nafsu.

Saling Mengingatkan
Pengertian tidak akan ada tanpa adanya kepercayaan dan kepercayaan tidak akan ada tanpa adanya kejujuran. Namun begitu, pengertian bukanlah tahap akhir. Masih ada yang perlu dilakukan setelah pengertian, yaitu saling mengingatkan. Saling mengingatkan di sini adalah upaya untuk menjadi lebih baik. Upaya untuk membaur kepada pasangan kita. Menjadi atau melakukan apa yang diinginkan oleh pasangan kita. Terkadang ada rasa segan jika ingin mengingatkan pasangan kita, takut pasangan marah, tersinggung, dll. Namun hal ini tidak akan terjadi jika kita sudah menerapkan 3 prinsip sebelumnya, yaitu kejujuran, kepercayaan, dan pengertian.

[deddy_ds, pemikir sotoyologi yang ‘belum pernah menikah’, 11 Juli 2009]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s