Kemenangan Dakwah

Foto Arief Saksono.
Sumber Foto: FB Arief Saksono

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Karena ini bukan persoalan perguliran kepemimpinan semata, tapi juga perjuangan menyeru umat kepada kebaikan dan melindungi mereka dari kemungkaran.

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Laiknya catatan sejarah, bahwa kemenangan itu bukanlah persoalan jumlah kekuatan, kekayaan, atau kekuasaan, tetapi lebih kepada keridhaan Allah yang turun melalui ketakwaan dan persatuan umat.

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Maka sudah sepatutnya kita bertasbih dan beristighfar, seperti suasana yang tergambar pada surah an-Nashr:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
Artinya: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan…

Hari ini kita menyaksikan kemenangan dakwah. Maka sudah tentu kita menjaganya, mulai dari menjaga adab diri untuk tidak jumawa atau mengotori diri dari kata-kata dan ekspresi yang menghina, hingga menjaga kualitas ketaatan dan ghirah persatuan yang selama ini terbina.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimushalihat…

Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal shalih.

Gunung, 19/4/2017

Istighfar dan Jalan Keluar Permasalahan

tilawah
Sumber: Instagram @deddysussantho

Ternyata istighfar itu tidak hanya sebagai sarana pengampun dosa, tetapi juga jalan keluar pertama atas segala permasalahan kita. Karena banyak orang menganggap istighfar itu diucap ketika ada dosa atau sehabis bermaksiat saja, sementara mereka berlelah mencari kesana kemari solusi tatkala ditimpa berbagai masalah. Padahal, jalan keluar pertama kali semua persoalan itu adalah dengan beristighfar.

Mengapa istighfar menjadi jalan keluar atas segala permasalahan? Karena cobaan kehidupan itu kalau tidak ujian, ya adzab.

Ujian, diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa. Diadakan untuk mengetahui ‘kelulusan’ atas keimanan mereka. Apabila ujian itu terasa sempit dan pahit, tentu sebagai penggugur dosa. Istighfar adalah jurus jitu memperlancar penyucian diri atas semua ujian itu, selain upaya menepis prasangka negatif dan bisikan setan untuk merutuk keadaan. Maka, istighfarlah.

Adzab, ditujukan bagi mereka yang dzalim. Dihadirkan sebagai hukuman sekaligus pengingat bagi mereka yang melampaui batas. Istighfar menjadi jawaban atas kesadaran kesalahan-kesalahan, sekaligus harapan adanya perubahan. Maka, istighfarlah.

Istighfar adalah taubat, yang berarti ruju’ ilallah (kembali kepada Allah). Segala permasalahan itu dari Allah, maka jalan keluar tentu dengan mudah Allah berikan bagi mereka yang mau beristighfar.

Dikisahkan ada seorang lelaki mengadu kepada Hasan al-Bashri tentang panasnya Bumi dan beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah!” Seorang lagi mengadu tentang kemiskinan, namun Hasan al-Bashri juga berkata, “Beristighfarlah kepada Allah!” Seorang lain lagi berkata kepadanya, ‘Do’akanlah aku, agar Allah memberiku anak!’, tapi lagi-lagi Hasan al-Bashri hanya berkata, “Beristighfarlah kepada Allah!” Lain lagi menanyakan tentang kekeringan kebunnya dan beliau juga berkata, “Beristighfarlah kepada Allah!”

Banyak orang yang mengadukan permasalahan yang berbeda-beda, tapi Hasan al-Bashri memberikan satu arahan yang sama atas persoalan mereka tersebut, yakni beristighfar.

Hasan al-Bashri menerangkan, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri, tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh (ayat 10-12):

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا # يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا # وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا #

Artinya:
“Mohonlah ampun (istighfarlah) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”.

Masya Allah…

Istighfar menjadi penyebab bergugurnya dosa. Saat dosa terhapus, akan tampak dampak berbagai rupa. Ada banyak kebaikan (keberkahan) yang hadir. Setiap kesusahan serta kesedihan berganti kebahagiaan dan kemudahan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya:
“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad)

Masya Allah…

Sungguh istighfar menjadi jalan keluar pertama atas permasalahan yang kita hadapi. Sudahkah kita beristighfar 70 atau 100 kali, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hari ini?

Allahu a’lam. Semoga Allah meridhai.

(Kedaung, 27 Maret 2017)

Ini Hobi Baru Saya, Menanam Pohon Jeruk!

pohon jeruk
Sumber: Instagram @deddysussantho

Ini hobi baru saya. Menanam pohon jeruk. Sebelum berangkat dan setelah pulang kerja, selalu saya sempatkan melihat dan menyiram mereka.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika mengetahui mereka sudah sebesar ini dan sudah siap untuk dipisahkan satu sama lainnya pada pot yang lebih besar secara terpisah. Padahal tiga minggu lalu mereka masih berupa biji.

Mereka mengingatkan saya dengan aktivitas membina. Pada mulanya ada banyak bibit yang ditanam, tapi ternyata tidak semua berhasil tumbuh. Ada yang tumbuh pesat, ada pula yang baru merekah biji tanda baru mau tumbuh, tapi tidak sedikit yang akhirnya kering dan berakhir mati. Bahkan di antara yang tumbuh itupun beragam bentuknya. Yang satu punya batang panjang dan berdaun lebar, walau sedikit. Satu lagi pendek tapi banyak tunasnya. Lain lagi daunnya sedikit namun tanpa tunas. Mereka tumbuh dengan masing-masing potensi.

Setiap hari seperti selalu ada yang baru. Entah tambah daunnya, tunasnya, atau batangnya. Melihat perkembangannya, seperti ada harapan baru bagi hari-hari ke depan. Meski saya tahu selalu ada masa di mana saya harus tega membiarkan mereka diterpa panas dan hujan. Karena saya tahu itu baik untuk kemajuan mereka.

Kini, saya mencari waktu yang tepat untuk menyemai mereka ke medan yang lebih luas. Saya sadar asupan mereka akan semakin bertambah. Tidak lagi cukup dengan tetesan air dan sinar matahari, tetapi perlu didukung dengan pupuk yang tepat serta penjagaan dari hama-hama yang mungkin menyerang. Mungkin saja di kurun waktu itu akan ada lagi yang tersisih di antara mereka, seolah memilah dan menjawab, mana bibit unggulan dan mana yang tidak tahan ujian.

(Kedaung, 22 Maret 2017)

 

Agar Keberadaan Kami Memberi Arti

“Mbak Lia, itu anak saya kok jadi mau belajar? Bagaimana ceritanya? Padahal di rumah susaaah banget disuruh belajar…” tanya seorang Ibu tetangga kami.

“Iya, anak-anaknya yang minta belajar. Insya Allah Selasa, Rabu, dan Minggu kita belajar bareng,” jawab Isteri saya.

“Tapi maaf loh Mbak Lia, bagaimana bayarannya? Saya takut gak bisa bayar jasa Mbak Lia.”

“Tenang saja, Bu. Gak usah bayar. Gratis. Yang penting anaknya semangat mau belajar itu sudah cukup.”

Alhamdulillah… berawal dari ketidaksengajaan ketika anak-anak di sekitar kediaman kami selesai bermain bola bercanda dengan anak kami Syawal. Dengan santai Ibu kami bilang kepada mereka agar selain bermain juga perlu belajar yang rajin. Ibu juga menawarkan agar belajar dengan Isteri saya.

“Emang boleh, Mbak Lia?” tanya mereka.

“Ya boleh dong…” jawab Isteri saya.

15822910_1512812228732155_5887875551665172995_n
Anak-anak sekitar rumah. (Credit by: Amalia)

Memang sejak mulai mengandung, isteri saya tidak lagi bekerja sebagai guru. Keputusan ini kami ambil karena beberapa kondisi yang mengharuskan kami menempuh pilihan tersebut. Hingga kini, kecintaannya pada dunia pendidikan dan kegiatan mengajar tidaklah hilang, meski anak kami saat ini menginjak usia enam bulan.

Kami pun berpikir bagaimana agar potensi positifnya dapat tersalurkan tanpa meninggalkan banyak waktu bagi anak kami. Salah satunya dengan berwacana membangun rumah baca untuk anak-anak di sekitar kediaman kami. Dari sana kami berencana mengadakan berbagai kegiatan edukatif bagi mereka.

Ada berbagai motif tujuan kami melakukan itu:

  1. Sebagai wadah mengajar Isteri.
  2. Sebagai sarana dakwah keluarga untuk masyarakat. Bagaimanapun kondisi lingkungan di sekitar kami memang butuh perhatian lebih. Banyak permasalahan degradasi moral yang jamak tersiar melingkupi persoalan remaja di sekitar lingkungan rumah kami.
  3. Sebagai upaya pendidikan dan penjagaan bagi anak kami. Karena untuk menjadikan anak kita baik, tidak cukup dengan mendidik anak kita saja. Perlu juga mendidik anak-anak di sekitar lingkungannya sebagai pengkondisian kebaikan bagi teman-teman sepermainan anak kita nanti.
15965972_1518982181448493_1401071522395097601_n
Anak-anak belajar matematika. (Credit by: Amalia)

Namun, ‘ala kulli hal, meski maksud mendirikan rumah baca belum terlaksana karena beberapa hal, Allah memberi kesempatan dan peluang untuk kami tetap bisa memberikan kontribusi bagi lingkungan dengan kegiatan mengajar ini.

Melalui kabar lisan yang beredar, alhamdulillah semakin banyak anak-anak yang hadir untuk belajar. Dan sekarang, ini sudah masuk ke pertemuan ketujuh.

Ibarat mencari bungkus, tapi Allah justru memberi isi. Semoga ke depannya Allah terus berikan keberkahan bagi keluarga kami dan memudahkan segala urusan kami.

Allahumma aamiin.

[Kedaung, 15 Januari 2017]

 

Setahun Perjalanan Cinta

fb8f3c07-162c-4a02-9c21-ada71a699239
Deddy & Amalia (Credit by @deddysussantho)

Masih teringat jelas bagaimana kesejukkan itu menjalar di perutku, saat tanganmu pertama kali melingkar dari belakang tempat duduk motor kita. Kemudian, kutempelkan telapak tangan kiriku di atas punggung tanganmu itu. Lalu kita sama-sama tertawa.

Saat-saat itulah yang paling kurindu. Berboncengan motor denganmu. Tak peduli kemana roda berputar, selama kamu di belakangku, menyentuh perutku dengan tanganmu dan kusentuh tanganmu dengan tanganku, aku merasa cukup.

Setelahnya, melalui kaca spion yang selalu sengaja kuposisikan agar kita bisa langsung bertatap, selalu ada rasa yang kita bagi. Seperti tawa yang kita tumpahkan pada angin pagi. Juga air mata yang kita titipkan pada tetes hujan di sore hari. Selama kamu bercerita, aku bahagia.

Karena dari sana aku jadi tahu, betapa sibuk dan seriusnya dirimu ketika mengajar anak-anak. Sampai-sampai turut mengantar pulang anak murid yang tidak dipedulikan (baca: dijemput) orangtuanya hingga malam. Lebih-lebih menangani dan dipercaya menanggulangi kasus degradasi moral yang menjangkiti anak-anak. Hingga-hingga menjadi tempat curhat orangtua mereka. Semua itu kamu lakukan dengan penuh dedikasi. Tak heran Bapak Kepala Sekolah merasa berat melepasmu tatkala aku datang untuk memberinya surat pengunduran dirimu.Read More »

Video Seminar Akhir Zaman

“Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian,” jelas Rasulullah SAW kepada para sahabat sesaat setelah Malaikat Jibril bertanya tentang Iman, Islam, Ihsan, dan Hari Kiamat. Saudaraku, begitu penting bagi kita mempelajari pokok agama yang diungkapkan dalam hadits ini, termasuk bagaimana memahami tentang akhir zaman dan Hari Kiamat. Ada banyak hadits-hadits yang […]

Karena Cinta Harus Diupayakan*

ternyata-itu-kamu
“Ternyata itu Kamu”

Alhamdulillahi ‘ala kulli hal…

Saat itu saya beranikan diri menanyakan apa mahar yang kamu inginkan. Seperti yang saya duga, kamu meminta waktu untuk itu. Hingga pada akhirnya, pagi sebelum Subuh, kubaca pesan Whatsapp yang telah kamu posting tengah malam lalu. Cukup banyak yang kamu sampaikan. Namun yang saya ingat adalah alinea pertama, di mana tersaji jawaban dari pertanyaan saya itu: Bacaan surah Ar-Rahman, lima tulisan khusus, dan sesuai kemampuan.

Tiga mahar ini membuat saya tertegun sekaligus bergumam, “Akhwat berkelas, maharnya pun berkelas (kreatif)”.

Alhamdulillah, dengan penuh pengertian, kamu menerima cincin dan kalung emas putih yang sebelumnya kita beli bersama sebagai salah satu mahar yang kamu minta. Namun jikapun saat itu kamu belum menghitungnya sebagai mahar, saya pasti akan memutar otak untuk mengerahkan apapun yang saya miliki untuk kamu. Tapi ternyata kamu menerima. Alhamdulillah. Jazakillah khairan. Karena demikianlah Islam, agar sang wanita menerima mahar semudah-mudahnya, sementara sang lelaki memberi mahar yang sebaik-baiknya.

Selesai dengan satu mahar, beralih ke mahar lainnya. Soal menghapal surah Ar-Rahman, kamu tahu, dulu saat kuliah, saya pernah berpikir bahwa menghapal al-Qur’an itu untuk Allah dan tak elok bila kita melakukannya untuk akhwat atau mahar. Solusinya adalah menghapalnya sebelum permintaan mahar hafalan itu datang. Saya pernah punya impian hafal tiga juz sebelum menikah, tapi baru sampai satu setengah juz, hafalan bukannya bertambah tapi malah cenderung berkurang.

Permintaan membaca surah Ar-Rahmah ini datang ketika saya mulai jarang menghafal. Saya tersenyum. Mungkin ini cara Allah untuk membuat saya kembali menghafal. Saya ingat pesan Murabbi ketika SMA, yang dulu ketika menikah juga diminta membaca surah Ar-Rahmah oleh calon isterinya, bahwa menghafal surah Ar-Rahmah itu mudah, karena cuma mengulang-ngulang. Akhirnya saya upayakan, bismillah, dan benar, menghapalnya hanya butuh beberapa hari saja (jika serius).

Alhamdulillah dua mahar selesai. Terakhir, lima tulisan khusus. Jujur, inilah permintaan yang membuat saya hampir tak bisa tidur dan tak terasa enak makan di Bulan September ini. Setiap harinya bagai detik deadline yang menghantui. Pasalnya permintaan ini datang di saat saya sudah tak lagi produktif menulis. Bagaimana mungkin inspirasi bisa dipaksa? Sempat saya berpikir untuk memberikan tulisan-tulisan lama yang menurut saya terbaik untuk dikumpulkan menjadi jawaban permintaan ini, namun saya urungkan.

Saya fokus pada kata-kata ‘tulisan khusus untukku’. Saya akhirnya menjadikan kesempatan ini untuk memberi pesan, nasihat, dan harapan-harapan saya untukmu. Maka jadilah kelima tulisan ini.

Pada bagian pertama, tersaji tulisan bertajuk “Sekelumit Awal Cerita”. Dibanding tulisan yang lainnya, judul ini adalah tulisan terakhir yang saya tulis. Di sini saya ingin menceritakan tentang hal yang luput saya ceritakan saat ta’aruf (semoga kamu berkenan), sekaligus menjadi latar belakang motivasi saya ingin menikah. Tulisan ini mengalir begitu saja. Maka maaf apabila tak ada fokus yang jelas atau diksi yang indah di dalamnya.

Sementara “Ternyata itu Kamu” adalah tulisan paling pertama yang saya tulis. Di sini saya ceritakan bagaimana perasaan saya berproses denganmu. Seperti berkelindan, tulisan ini seperti tindak lanjut cerita di tulisan sebelumnya.

Di tulisan “Bersabarlah…” awalnya saya ingin memberinya judul Belajar dari Ummu Salamah, tapi tidak jadi. Ummu Salamah adalah ummul mukminin yang saya favoritkan setelah Khadijah. Awal mula ketertarikan pada sosok isteri rasul yang satu ini adalah pasca membaca kisah yang saya ceritakan ini. Entahlah, ketika dulu membacanya, seperti ada ketertarikan tersendiri saya pada karakter yang dimiliki Ummu Salamah.

Pada bagian keempat, ada tulisan dengan judul paling panjang dari lainnya, “Tak Ada Cinta Melainkan Karena-Nya, dan Tak Ada Cinta Melebihi Cinta Kepada-Nya”. Lagi-lagi saya mengangkat kisah seorang shahabiyah favorit saya di dalam tulisan ini. Ingin sekali saya perbaiki tulisan ini, karena merasa kurang maksimal menyajikannya, namun selain tak ada waktu, saya ingin menyajikannya utuh kepadamu sebagaimana awal lintasan fikiran saya saat menuliskannya.

Kemudian tulisan kelima “Zamiluni… Zamiluni…” pada awalnya adalah bagian dari tulisan “Sekelumit Awal Cerita”. Namun setelah dirasa tak nyambung, akhirnya saya jadikan tulisan ini judul tersendiri. Mulanya saya berkeinginan mengangkat kekaguman saya terhadap sosok Khadijah. Pun begitu, ala kulihal, jadilah tulisan ini. Bukan puisi, bukan prosa, ah entahlah, hanya sebuah kata-kata yang tersusun dengan harapan semoga kamu memahami apa yang saya maksud.

Pada bagian akhir, saya tambahkan dua tulisan lama, yang saya hampir tak percaya pernah menuliskannya di awal kuliah. Kini, tulisan itu menjadi nasihat untuk saya dan kamu. Anggaplah ini sebagai nasihat dari masa lalu.

Sengaja saya jadikan kelima tulisan khusus ini ke dalam format buku binder khusus yang dapat dikreasikan. Inspirasi ini muncul di tengah kebuntuan saya memikirkan bagaimana cara menyajikan mahar “Lima Surat Cinta” saat akad nikah nanti. Saya pun tambahkan kertas-kertas kosong di belakang dengan maksud agar dapat menjadi catatan tambahan seiring perjalanan hidup kita. Karena, sejatinya, kisah kita baru saja dimulai.

Inilah maharku untukmu…

Inilah maharku untukmu
Seperti ini kumampu
Sepenuh hati kuberikan
Sebagai wujud cintaku

Maharku untukmu tulus kuserahkan
Kepada dirimu satu yang kupilih
Maharku untukmu agung karunia
Yang Allah berikan padaku untukmu

Terimalah sebaris doa
Semoga engkau bahagia
Dan kunyanyikan lagu ini
Persembahan cinta suci

[Maharku Untukmu – Nasyid Alief]

Semoga kamu suka.

Alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimushalihat…

 

Kebon Sirih, 29 September 2015
Deddy Sussantho
*) Judul Diambil dari Karya Izzatul Jannah dengan Judul yang Sama